Alat peroboh tersebut dilengkapi roda besi sehingga mudah dipindahkan ke lokasi penyembelihan. Posisi sapi yang telah terikat kuat dalam keadaan terbaring dinilai mengurangi risiko sapi mengamuk atau melukai petugas.
Menurut Supardi, ide pembuatan alat itu lahir dari kolaborasi jamaah masjid. Salah satu jamaah yang berprofesi sebagai tukang las membantu proses pembuatan berdasarkan desain yang disusun pengurus masjid.
Untuk merakit alat tersebut dibutuhkan biaya sekitar Rp8 juta. Meski demikian, biaya itu dinilai sepadan karena alat dapat digunakan berulang kali dalam jangka panjang.
"Selain mempercepat proses penyembelihan, alat ini bisa digunakan berkali-kali selama belum rusak. Bahkan beberapa masjid lain juga sering meminjam alat ini saat Iduladha," katanya.
Keberadaan alat peroboh sapi juga mendapat apresiasi dari Ketua Komisi A DPRD Bantul, Jumakir. Menurutnya, inovasi tersebut membantu menciptakan proses penyembelihan yang lebih aman, baik bagi hewan kurban maupun petugas.
"Selain sapi lebih aman dan tidak stres, petugas penyembelihan juga lebih terlindungi. Harapannya ke depan alat seperti ini bisa tersedia di tingkat kelurahan atau kecamatan agar dapat dimanfaatkan bersama," ujarnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
