PG Mojo Sragen Bantah Over Capacity, Akui Emisi Debu Meningkat dan Minta Maaf ke Warga

Joko Piroso
Manager Instalasi PG Mojo Sragen, Edi Sugihandoyo (kanan), memberikan penjelasan terkait peningkatan emisi debu selama musim giling 2026.Foto:iNews/Joko P

SRAGEN, iNewsSragen.idManajemen Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen memberikan klarifikasi atas keluhan warga terkait sebaran abu tebu dan debu selama musim giling 2026. Pabrik mengakui terjadi peningkatan emisi, namun membantah beroperasi melebihi kapasitas. 

Manager Instalasi PG Mojo Sragen, Edi Sugihandoyo, menjelaskan peningkatan emisi dipengaruhi dua faktor utama, yakni kondisi cuaca kemarau yang ekstrem serta peningkatan kapasitas giling untuk menyerap hasil panen tebu petani.

Menurut Edi, musim kemarau yang lebih kering menyebabkan abu hasil pembakaran boiler tidak segera turun ke permukaan tanah karena minim curah hujan. Abu kemudian menumpuk di atap rumah maupun pepohonan dan beterbangan saat tertiup angin.

"Faktor alam menjadi salah satu penyebab meningkatnya dampak debu tahun ini. Selain itu, kami juga meningkatkan kapasitas giling untuk mengakomodasi hasil panen petani yang melimpah," ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Ia menjelaskan, produksi tebu di wilayah Sragen pada musim giling tahun ini meningkat signifikan. Luas areal tebu sekitar 7.500 hektare diperkirakan menghasilkan panen hingga 6 juta kuintal, lebih tinggi dibanding musim sebelumnya yang mencapai sekitar 4,4 juta kuintal.

Kondisi tersebut mendorong PG Mojo meningkatkan beban kerja boiler dari sekitar 60 ton per jam menjadi 70–75 ton per jam. Kapasitas giling pun naik dari sekitar 2.400–2.800 ton tebu per hari menjadi sekitar 3.000–3.200 ton per hari.

Meski demikian, Edi menegaskan peningkatan tersebut belum dapat dikategorikan sebagai over capacity. Menurutnya, kapasitas desain boiler mencapai 80 ton per jam sehingga operasional saat ini masih berada dalam batas aman secara teknis.

"Kami bukan beroperasi melebihi kapasitas desain alat. Namun kami mengakui dampak emisi yang dirasakan masyarakat meningkat dan untuk itu kami menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang terdampak," katanya.

Sebagai langkah penanganan, PG Mojo telah melakukan penyetelan ulang (tuning) dan re-setting sistem Electrostatic Precipitator (ESP) dengan melibatkan tenaga ahli. Perusahaan juga membuka jalur komunikasi dengan masyarakat melalui pemerintah kelurahan, RT, dan RW agar setiap keluhan dapat segera ditindaklanjuti.

Untuk solusi jangka panjang, manajemen berencana mengusulkan penambahan komponen penyaring debu pada ESP dari dua field menjadi tiga field. Usulan tersebut akan diajukan kepada kantor pusat sebagai bagian dari peningkatan sistem pengendalian emisi pada musim giling mendatang.

Terkait wacana penurunan kapasitas giling untuk mengurangi emisi, Edi mengatakan pihaknya masih menunggu rekomendasi resmi dari Pemerintah Kabupaten dan DPRD Sragen sebagai bahan pertimbangan sebelum disampaikan kepada kantor pusat serta mitra petani tebu.

Saat ini, dampak debu disebut paling dirasakan masyarakat yang berada di kawasan Ring 1 pabrik, terutama dalam radius sekitar 500 meter hingga 1 kilometer dari PG Mojo, termasuk wilayah Kelurahan Sragen Kulon dan Nglorog.

Dengan progres musim giling yang baru mencapai sekitar 48–50 persen, operasional pabrik diperkirakan masih berlangsung sekitar 80 hingga 90 hari ke depan sembari terus dilakukan evaluasi untuk menekan dampak terhadap lingkungan.

Editor : Joko Piroso

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network