Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Joging di Tepi Irigasi, Pemuda 20 Tahun di Grobogan Ditemukan Tewas
Advertisement . Scroll to see content

Kericuhan Warnai Tradisi Sedekah Bumi di Grobogan, Warga Berebut Gunungan

Sabtu, 10 Mei 2025 | 10:04 WIB
  • author Rustaman Nusantara
Kericuhan Warnai Tradisi Sedekah Bumi di Grobogan, Warga Berebut Gunungan
Tradisi Sedekah Bumi di Desa Kalongan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, diwarnai kericuhan saat ratusan warga berebut tiga gunungan hasil bumi, Jumat (9/5/2025) sore.Foto:iNews/Rustaman N

GROBOGAN, iNewsSragen.id  – Tradisi Sedekah Bumi di Desa Kalongan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, diwarnai kericuhan saat ratusan warga berebut tiga gunungan hasil bumi, Jumat (9/5/2025) sore.

Kericuhan terjadi sesaat setelah pembacaan doa oleh tokoh agama di Punden Mbah Gunting. Warga yang sejak awal mengepung area punden langsung berhamburan mendekati gunungan dan saling dorong untuk mendapatkan hasil bumi. Beberapa warga bahkan terjatuh, namun situasi tetap terkendali.

Meski terjadi aksi saling dorong, warga mengaku tidak merasa marah atau dendam. Justru momen tersebut dianggap sebagai bagian dari tradisi yang mempererat persaudaraan.

“Saya sempat naik sampai puncak gunungan dan mendapatkan beberapa sayuran. Ini akan saya masak di rumah. Katanya bisa membawa berkah kesehatan dan rezeki,” ujar Dwi Susilo, salah satu warga yang turut berebut gunungan.

Gunungan yang diperebutkan terdiri dari hasil bumi seperti sayuran dan buah, yang sebelumnya diarak mengelilingi desa sebelum diletakkan di Punden Mbah Gunting. Lokasi ini diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh leluhur pendiri Desa Kalongan.

Kepala Desa Kalongan, Tutut Purworini, menjelaskan bahwa Sedekah Bumi ini rutin digelar setiap tahun pada bulan Apit dalam penanggalan Jawa.

"Setiap kepala keluarga membawa satu bungkus bancakan dan uang sukarela yang nantinya digunakan untuk kepentingan desa. Tradisi ini tidak boleh ditinggalkan, karena sudah beberapa kali terjadi hal yang tidak diinginkan ketika tidak dilaksanakan," ungkapnya.

Warga percaya, selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, tradisi ini juga menjaga keharmonisan masyarakat dan kelangsungan hidup desa.

Editor: Joko Piroso

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut