Karhutla Gunung Lawu Capai 200 Hektare, Dua Helikopter Dikerahkan untuk Water Bombing
KARANGANYAR, iNewsSragen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, diperkirakan telah mencapai 200 hektare. Upaya pemadaman terus dilakukan melalui operasi udara dan darat untuk menekan penyebaran api.
Memasuki hari kedua operasi udara, petugas mengerahkan dua helikopter, yakni Super Puma dan MI-17, untuk melakukan pemadaman menggunakan metode water bombing atau pengeboman air.
" Pada saat ini kita kekuatan ada dua pesawat, satu Super Puma dan satu pesawat, MI-17". Terang Marsma TNI Henri Ahmad Badawi, Komandan Lanud Adi Soemarmo Boyolali, Selasa (20/10/2026)
Masing-masing helikopter memiliki kapasitas angkut air sekitar 2.000 hingga 2.500 liter dalam sekali pengangkutan. Pada hari kedua operasi, masing-masing helikopter dijadwalkan melaksanakan dua sortie atau penerbangan operasi pemadaman.
"Saat ini area yang sudah bisa di-cover atau sudah dilaksanakan bombing, water bombing sudah cukup luas, namun demikian karena pertumbuhan titik api juga cukup signifikan, kita akan terus laksanakan setiap hari". Lanjutnya.
Petugas menargetkan operasi udara dapat dimaksimalkan dalam tiga hingga empat hari ke depan, dengan harapan penyebaran titik api dapat ditekan dan tidak semakin meluas.
Meski demikian, pemadaman menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi medan Gunung Lawu yang terjal, angin kencang, serta perubahan cuaca yang berlangsung cepat.
Selain itu, titik api cenderung menyebar ke arah atas lereng. Kondisi ini menyulitkan manuver helikopter, terutama di kawasan dengan ketinggian yang disebut mencapai sekitar 10.000 kaki.
Vegetasi pohon cemara yang mendominasi kawasan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan api mudah menyebar, terlebih ketika angin bertiup kencang.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, tim pemadam di darat bekerja sama dengan petugas operasi udara. Salah satu upaya yang dilakukan yakni membuat parit-parit pembatas guna menyekat pergerakan api.
Pembuatan sekat api diharapkan dapat mempersempit area penyebaran kebakaran, sehingga pelaksanaan water bombing menjadi lebih efektif.
Petugas menyebut, evaluasi operasi sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi angin di kawasan pegunungan menjadi tantangan tersendiri. Selain membatasi pergerakan helikopter, kondisi medan yang curam juga membuat proses pemadaman harus dilakukan dengan perhitungan yang cermat.
Pada hari kedua, operasi udara dimaksimalkan dengan dua sortie menggunakan helikopter Super Puma dan dua sortie menggunakan MI-17. Keselamatan awak pesawat tetap menjadi prioritas dalam setiap pelaksanaan operasi.
Kolaborasi antara pemadaman dari udara dan darat diharapkan dapat mengurangi dampak kebakaran, sekaligus mempercepat pengendalian api di lereng Gunung Lawu.
Petugas berharap kondisi cuaca dan angin mendukung pelaksanaan operasi, sehingga seluruh sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memadamkan kebakaran.
Editor: Joko Piroso