Tahapan tersebut dilakukan agar bentuk lemper tetap terjaga ketika masuk proses pengemasan. Lemper yang masih lunak berisiko berubah bentuk atau penyok saat divakum maupun dimasukkan ke dalam kemasan kedap udara.
Setelah cukup dingin, lemper kemudian dikemas menggunakan metode vakum dan disimpan di dalam freezer.
Dengan proses tersebut, Isnaini menyebut produk lemper buatannya dapat bertahan hingga sekitar satu bulan tanpa menggunakan bahan pengawet.
Lemper frozen produksi rumahan tersebut dikemas dalam satu paket berisi 10 buah dengan harga Rp30.000.
Pemasarannya tidak hanya menyasar konsumen di Bantul dan wilayah Yogyakarta. Produk tersebut juga telah dibawa ke sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya Kalimantan dan Jambi.
Menariknya, lemper frozen buatan Isnaini juga telah sampai kepada pembeli di Australia. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang makanan tradisional untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih praktis dan dapat dibawa dalam perjalanan jarak jauh.
Bagi Isnaini, pengembangan lemper frozen bukan sekadar mempertahankan makanan tradisional, tetapi juga menjadi upaya memperluas jangkauan produk khas Jawa agar dapat dinikmati masyarakat di luar daerah.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
