Ia meyakini pemerintah memiliki sumber daya kelembagaan dan tenaga ahli untuk menangani tantangan ekonomi nasional, termasuk inflasi, perkembangan pasar modal, dan pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, penyelenggaraan pemerintahan perlu terus berkembang secara dinamis dengan melibatkan potensi berbagai elemen bangsa.
“Saya yakin ke depan tentu harus lebih dinamis, lebih progresif, dan mampu memobilisasi potensi kekuatan bangsa agar beban pemerintah tidak terlalu berat,” katanya.
Haedar juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang terbuka dan konstruktif. Menurutnya, hubungan pemerintah dengan berbagai elemen masyarakat sebaiknya berorientasi pada kepentingan bangsa, bukan kepentingan politik kelompok.
“Caranya, tentu dengan selalu membangun komunikasi publik yang baik. Lalu, bangun relasi dengan kekuatan masyarakat yang lebih berorientasi pada kepentingan kebangsaan, bukan kepentingan politik,” tuturnya.
Ia memandang aspirasi dan kritik masyarakat sebagai masukan untuk mengevaluasi kebijakan dan memperbaiki kekurangan dalam pelaksanaan pemerintahan.
“Jadikan masukan dan kritik sebagai energi untuk memperbaiki berbagai kekurangan selama dua tahun terakhir,” kata Haedar.
Menurutnya, kolaborasi yang dibangun melalui komunikasi sehat dapat membantu pemerintah mengoptimalkan potensi masyarakat sekaligus memperkuat pelaksanaan program pembangunan.
Selain persoalan pembangunan dalam negeri, Haedar menyoroti dinamika geopolitik global yang diwarnai persaingan kepentingan negara-negara besar, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Tiongkok, dan Rusia.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
