YOGYAKARTA, iNewsSragen.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Meski nyala api di permukaan sudah padam, bara di lapisan gambut masih berpotensi bertahan dan memicu kebakaran kembali.
Guru Besar Bidang Ilmu Tanah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan, karakter gambut yang kaya bahan organik membuat kawasan tersebut rentan terbakar ketika kehilangan kelembapan.
Gambut terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan yang terurai tidak sempurna dalam kondisi jenuh air selama waktu yang panjang. Ketika muka air tanah turun akibat kemarau berkepanjangan atau pengeringan melalui kanal drainase, lapisan atas gambut dapat mengering dan lebih mudah terbakar.
“Begitu gambut mengalami penurunan muka air, gambut bisa memiliki lapisan serasah kering hingga beberapa meter,” kata Gunawan saat diwawancarai, Jumat (23/10/2026).
Menurut dia, salah satu kesulitan pemadaman karhutla di lahan gambut adalah bara yang dapat menjalar di bawah permukaan. Kondisi ini membuat petugas tidak cukup hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga perlu memastikan bagian tanah yang masih membara benar-benar padam.
Asap yang keluar dari permukaan dapat menjadi salah satu indikasi adanya pembakaran yang masih berlangsung di bawah tanah. Karena itu, pemeriksaan dan pemantauan lanjutan diperlukan setelah pemadaman untuk mengurangi risiko api kembali muncul.
Persoalan karhutla juga menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia. Pada 12 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan luas lahan yang masih dalam penanganan satuan tugas mencapai 639,23 hektare di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
