Pendaki Asal Colomadu Ditemukan Meninggal, Dimakamkan Malam Ini Usai Pemulasaran di RSUD Karanganyar
KARANGANYAR, iNewsSragen.id - Pendaki Yazid Ahmad Firdaus (26), warga Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, ditemukan meninggal dunia pada Selasa (10/2/2026). Jenazah korban rencananya akan langsung dimakamkan malam ini di Pemakaman Gawanan, setelah proses pemulasaran selesai di RSUD Karanganyar.
Berdasarkan pantauan di lapangan, jasad Yazid tiba di RSUD Karanganyar sekitar pukul 17.00 WIB dan langsung dibawa ke kamar jenazah. Petugas selanjutnya melakukan proses identifikasi serta pemulasaran.
Proses identifikasi selesai sekitar pukul 19.30 WIB. Setelah itu, jenazah diberangkatkan menggunakan ambulans menuju rumah duka. Proses tersebut turut dihadiri Bupati Karanganyar Rober Christanto dan Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti.
Kapolres Karanganyar AKBP Arman Sahti menyampaikan, hasil identifikasi awal dilakukan berdasarkan properti yang melekat pada jenazah.
“Hasil identifikasi tim kami berdasarkan properti yang digunakan, seperti kaos dalam, jaket, celana, dan kaos kaki, identik dengan yang dikenakan korban sebelum melakukan pendakian,” ujarnya di RSUD Karanganyar.
Meski demikian, pihak kepolisian belum dapat menyimpulkan penyebab kematian korban. Arman menegaskan bahwa identifikasi lanjutan masih akan dilakukan untuk memastikan seluruh aspek secara menyeluruh.
“Kami belum bisa menyampaikan penyebab kematian. Yang dapat kami pastikan saat ini adalah kesesuaian properti yang digunakan korban,” tegasnya.
Sementara itu, ayah korban, Sapto Mulyono, yang terlihat berada di kawasan Bukit Mongkrang maupun di RSUD Karanganyar, memilih belum memberikan keterangan kepada awak media.
Di sisi lain, anggota Wanadri, Sugiarto (55), mengungkapkan bahwa jasad Yazid ditemukan sekitar 1,7 kilometer dari titik terakhir korban terlihat, yakni Pos 3 jalur pendakian Bukit Mongkrang.
“Jika ditarik garis lurus, jaraknya sekitar 1,7 kilometer dari Pos 3 ke arah barat,” ujar Sugiarto saat ditemui di Bukit Mitis.
Ia menjelaskan, jasad korban ditemukan di aliran sungai di bawah Bukit Mongkrang dan tertutup gedebog pisang, sehingga tidak terlihat dari atas.
“Posisinya di air, yang terlihat hanya kakinya. Kondisinya sudah terdapat belatung dan pakaian yang dikenakan sesuai dengan yang terakhir dipakai,” jelasnya.
Ketua Tim Operasi Mongkrang Wanadri, Badawi, menambahkan bahwa lokasi penemuan merupakan hasil analisis kronologis dan rekonstruksi pergerakan korban.
“Temuan ini berdasarkan analisa data dan rekonstruksi, sehingga kami mencurigai wilayah tersebut. Lokasinya berada di tempuran antara Bukit Mongkrang dan Mitis yang dipenuhi patahan tebing,” katanya.
Badawi menyebut kawasan tersebut dikenal ekstrem dan berbahaya. “Itu kawasan yang dikenal sebagai tapak naga. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang mengarah ke Desa Beruk, Kecamatan Jatiyoso,” tambahnya.
Dalam operasi pencarian tersebut, 13 anggota Wanadri diterjunkan sejak Sabtu (7/2/2026) dengan metode flying camp untuk menjangkau area sulit di sekitar Bukit Mongkrang.
Editor : Joko Piroso