Bagus Rizki Dinarwan: SH Terate Satu, Jangan Bangun Narasi Konfrontatif
MADIUN, iNewsSragen.id – Salah satu tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun, Bagus Rizki Dinarwan, menyampaikan pernyataan terbuka yang menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan sikap organisasi kepada publik. Ia mengingatkan agar setiap pernyataan disampaikan secara bijak dan tidak memicu polemik baru di tengah warga.
Bagus Rizki menilai, komunikasi organisasi harus menggunakan bahasa yang santai, landai, namun tetap tegas dan jelas. Ia mengimbau agar tidak muncul narasi yang berpotensi ditafsirkan sebagai tantangan atau provokasi yang dapat memicu konflik internal maupun eksternal.
“Sampaikan dengan tenang, jangan sampai seolah-olah menantang perang. Kita ini organisasi persaudaraan,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
Dalam pernyataannya, Bagus Rizki menegaskan tiga poin utama yang menurutnya perlu dipahami bersama oleh seluruh warga SH Terate. Pertama, ia menekankan bahwa SH Terate merupakan satu organisasi yang utuh dan tidak terpecah oleh kepentingan apa pun. Prinsip persaudaraan, menurutnya, harus tetap menjadi landasan utama dalam setiap langkah dan sikap organisasi.
Kedua, ia menyatakan bahwa berbagai persoalan yang muncul telah diselesaikan secara internal melalui mekanisme organisasi yang berlaku. Proses penyelesaian tersebut dilakukan sesuai aturan dan menjadi bagian dari dinamika organisasi yang sah.
Ketiga, Bagus Rizki menyinggung pelaksanaan Parapatan Luhur 2017 yang disebut diikuti oleh peserta Parapatan Luhur 2016 dengan jumlah mayoritas serta mendapat persetujuan Majelis Luhur secara kolektif kolegial. Ia menyebut hal tersebut sebagai dasar legitimasi bahwa keputusan yang dihasilkan merupakan keputusan organisasi.
Di akhir pernyataannya, Bagus Rizki mengajak seluruh warga SH Terate untuk kembali merapatkan barisan, menurunkan ego pribadi maupun kelompok, serta menjaga marwah organisasi. Ia berharap seluruh elemen SH Terate dapat bersikap dewasa dan mengedepankan persatuan demi keberlangsungan dan kejayaan organisasi.
Editor : Joko Piroso