Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Aksi Kemanusiaan Butet Kartaredjasa di Rutan Bantul, Seniman Beri Motivasi Tahanan
Advertisement . Scroll to see content

24 Muralis Nasional Adu Kreativitas di Sragen, Angkat Sejarah Sangiran hingga Budaya Sukowati

Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:42 WIB
  • author Joko Piroso
24 Muralis Nasional Adu Kreativitas di Sragen, Angkat Sejarah Sangiran hingga Budaya Sukowati
Sebanyak 24 muralis dari berbagai daerah mengikuti Lomba Mural Nasional di Taman Sachari Sukowati, Sragen.Foto: iNews/ Joko P

SRAGEN, iNewsSragen.id – Sebanyak 24 muralis dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Lomba Mural Tingkat Nasional yang digelar di kawasan Taman Sachari Sukowati, Kabupaten Sragen, selama dua hari, Sabtu-Minggu (4-5/7/2026). Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas para seniman, tetapi juga diharapkan mampu mengangkat potensi UMKM dan memperkuat identitas budaya Kabupaten Sragen.

Peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Wonosobo, Brebes, Semarang, Surakarta, Magelang, hingga tuan rumah Sragen. Seluruh peserta mengangkat tema besar tentang sejarah, budaya, dan kearifan lokal Sragen, mulai dari peradaban manusia purba hingga era Sukowati.

Ketua Panitia, Joko Sunarto, mengatakan lomba mural tahun ini diselenggarakan secara mandiri tanpa dukungan anggaran dari pemerintah daerah. Meski demikian, antusiasme peserta tetap tinggi.

"Sebanyak 24 muralis mengikuti lomba ini. Tujuan utama kami bukan hanya menghadirkan ruang kreativitas bagi para seniman, tetapi juga ikut menggerakkan UMKM di kawasan Taman Sachari. Ke depan kami berharap pemerintah daerah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi perkembangan seni mural di Sragen," ujarnya.

Setiap peserta diberi waktu sekitar 10 jam, mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, untuk menyelesaikan karya pada media tripleks berukuran 1,22 x 2,44 meter.

Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah muralis senior asal Borobudur, Magelang, Priyo PR atau akrab disapa Yoyok (59). Ia mengangkat tema "Sejarah Peradaban Manusia Purba" dengan menampilkan identitas Sragen sebagai Kota Fosil sekaligus kawasan Sukowati.

Menurutnya, Sragen memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa karena menjadi salah satu pusat penemuan fosil manusia purba dunia melalui kawasan Sangiran.

"Sragen dikenal sebagai Sukowati sekaligus Kota Fosil. Peradaban manusia purba di wilayah ini merupakan bagian penting dari sejarah perjalanan manusia yang dikenal hingga tingkat internasional. Itu yang saya coba hadirkan dalam karya ini," katanya.

Yoyok mengaku tantangan terbesar dalam kompetisi tersebut adalah keterbatasan waktu serta karakter media lukis yang berbeda dengan dinding.

"Kalau ingin hasil yang benar-benar maksimal biasanya membutuhkan dua hari atau lebih. Melukis di tripleks saat cuaca panas juga membutuhkan teknik yang berbeda agar warna tetap kuat," jelasnya.

Ia menilai penyelenggaraan lomba tahun ini mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, baik dari sisi fasilitas maupun penyediaan material. Para muralis juga mulai mengombinasikan berbagai teknik dan bahan, seperti warna neon, glitter, hingga media campuran (mixed media) untuk menghasilkan efek visual yang lebih menarik.

Selain diikuti muralis senior, kompetisi ini juga menjadi panggung bagi generasi muda. Salah satunya Komaria Arimurti (19), mahasiswa Program Studi Seni Rupa Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta asal Kecamatan Tangen, Sragen.

Muralis yang akrab disapa Maya tersebut menjadi peserta termuda dalam ajang ini. Meski baru pertama kali mengikuti lomba mural, ia tampil percaya diri bersaing dengan para seniman berpengalaman.

Dalam karyanya, Maya mengangkat tema kearifan lokal Sragen dengan memadukan tradisi mitoni, gejog lesung, dan tayub, serta sejumlah ikon daerah seperti Museum Sangiran, Gunung Kemukus, dan Pemandian Bayanan.

"Ini pertama kali saya mengikuti lomba mural. Sebelumnya lebih sering mengikuti lomba melukis. Justru dengan banyaknya muralis senior, saya semakin tertantang untuk memberikan karya terbaik," ujarnya.

Penyelenggara berharap Lomba Mural Nasional dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya melahirkan karya seni berkualitas, tetapi juga memperkuat promosi pariwisata, sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif Kabupaten Sragen.

Editor: Joko Piroso

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut