JIKF 2026 Resmi Dimulai, Pelayang dari 17 Negara Ramaikan Golden Ticket Selection
Penilaian dilakukan melalui dua tahapan, yakni pemeriksaan konstruksi layang-layang di darat dan performa saat diterbangkan. Dewan juri menilai kualitas rangka, tingkat kesulitan pembuatan, komposisi warna, kestabilan terbang, karakter suara, hingga kesesuaian desain dengan tema.
Penyelenggaraan festival juga mendapat dukungan berbagai instansi. PT PLN (Persero) UPT Salatiga memastikan lokasi penerbangan berada sekitar enam kilometer dari jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV, sehingga dinilai aman bagi aktivitas menerbangkan layang-layang.
Momentum tersebut sekaligus dimanfaatkan PLN untuk mengedukasi masyarakat agar selalu menerbangkan layang-layang di lapangan terbuka yang jauh dari jaringan listrik guna mencegah kecelakaan maupun gangguan pasokan listrik.
Dukungan serupa diberikan AirNav Indonesia Cabang Yogyakarta yang melakukan asesmen ruang udara dan berkoordinasi dengan panitia mengingat lokasi festival berada tidak jauh dari kawasan operasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Koordinasi tersebut memastikan kegiatan berlangsung tanpa mengganggu keselamatan penerbangan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kompetisi. Salah satunya Kindar, peserta asal Candimulyo, Magelang, yang mengikuti kategori tradisional dengan karya Kembang Lintang. Layang-layang tersebut disiapkan selama lebih dari 20 hari menggunakan rangka bambu pilihan dengan teknik khas layangan mancungan Yogyakarta.
"Saya ikut bukan hanya untuk mencari juara, tetapi menambah teman dan pengalaman. Harapannya kegiatan seperti ini terus diadakan agar pelayang semakin percaya diri menunjukkan kreativitasnya," katanya.
Editor : Joko Piroso