FBM: Tidak Ada Gedung Kesenian, Kota Solo Krisis Identitas
Ia menilai kebutuhan akan gedung kesenian sudah berada pada titik yang sangat urgen karena Solo secara historis merupakan rahim sekaligus gudangnya para maestro besar dalam bidang seni.
"Mulai dari pelukis legendaris seperti Dullah dan Hari Gedang, para maestro musik seperti Gesang dan Waldjinah, hingga seniman panggung seperti Srimulat dan Ketoprak, semua ada," terangnya.
Terlebih lagi, lanjutnya, keberadaan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo terus mencetak ribuan hingga jutaan seniman akademis baru. Namun, ekosistem subur tersebut justru dibiarkan mati suri oleh pemerintah tanpa adanya ruang publik untuk berkembang.
Ketiadaan fasilitas ini berdampak langsung pada operasional sanggar lokal, termasuk sanggar tari miliknya sendiri.
"Saya sendiri punya sanggar, yaitu Sanggar Gendewa Pinenthang. Pelatih kami pun kebingungan untuk mencari tempat untuk latihan, kita sering meminjam pendopo Kelurahan Sangkrah untuk berlatih," ungkap Kusumo, membeberkan realita pahit di lapangan.
Editor : Joko Piroso