get app
inews
Aa Text
Read Next : Pria Ditemukan Tewas Penuh Luka di Rumah Warga Bantul, Polisi Dalami Penyebabnya

WMO Prediksi 2026–2030 Jadi Tahun-Tahun Terpanas, Akademisi UMY Ingatkan Ancaman Krisis Air

Selasa, 14 Juli 2026 | 19:55 WIB
header img
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ir. Nursetiawan.Foto: Istimewa

BANTUL, iNewsSragen.id - Prediksi WMO tentang periode 2026–2030 sebagai rentang terpanas mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ir. Nursetiawan, S.T., M.T., Ph.D., menilai kondisi tersebut harus menjadi peringatan bagi seluruh negara, termasuk Indonesia, untuk segera memperkuat strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air.

Berdasarkan proyeksi WMO, terdapat peluang sebesar 86 persen bahwa setidaknya satu tahun pada periode 2026–2030 akan melampaui rekor suhu global tahun 2024. Bahkan, suhu rata-rata bumi diperkirakan berpotensi melampaui ambang kenaikan 1,5 derajat Celsius dibandingkan era praindustri.

Nursetiawan mengatakan, perubahan iklim bukan lagi ancaman yang akan terjadi di masa depan, melainkan telah menjadi realitas yang dirasakan melalui meningkatnya suhu udara dan perubahan pola cuaca.

"Prediksi dari WMO merupakan peringatan yang sangat serius. Kita sudah mulai merasakan suhu udara terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan beberapa tahun terakhir telah mencatat rekor suhu tertinggi dan tren tersebut diperkirakan masih akan berlanjut," ujarnya, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, dari perspektif teknik keairan dan lingkungan, kenaikan suhu global tidak hanya membuat udara semakin panas, tetapi juga mengubah keseimbangan siklus hidrologi yang mengatur pergerakan air melalui hujan, penguapan, infiltrasi ke dalam tanah, hingga aliran menuju sungai dan laut.

Perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya ketidakpastian ketersediaan air. Curah hujan menjadi semakin ekstrem dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat yang meningkatkan risiko banjir, sementara di sisi lain periode kekeringan menjadi lebih panjang akibat meningkatnya penguapan.

"Perubahan iklim menyebabkan intensitas curah hujan menjadi semakin ekstrem. Di satu sisi risiko banjir meningkat, namun di sisi lain ancaman kekeringan juga semakin besar karena pola distribusi air menjadi tidak menentu," jelasnya.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan baru dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Selama ini, berbagai perencanaan infrastruktur keairan masih banyak mengacu pada data hidrologi historis, padahal pola iklim telah berubah secara signifikan.

Karena itu, menurut Nursetiawan, setiap perencanaan pembangunan di sektor sumber daya air harus mulai memasukkan faktor perubahan iklim agar lebih adaptif terhadap kondisi yang terus berubah.

"Kegiatan di bidang sumber daya air harus mulai diarahkan pada pendekatan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Jadi bukan hanya menggunakan data hidrologi historis, tetapi unsur perubahan iklim juga harus menjadi bagian dari setiap kajian dan perencanaan," katanya.

Ia menambahkan, upaya adaptasi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah melalui pembangunan infrastruktur. Dunia akademik, pelaku usaha, dan masyarakat juga memiliki peran penting melalui riset, inovasi teknologi, penyusunan kebijakan, hingga partisipasi dalam menjaga ketahanan air.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk membangun sistem pengelolaan sumber daya air yang tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.

"Adaptasi perubahan iklim membutuhkan kolaborasi semua pihak. Kajian ilmiah, inovasi teknologi, kebijakan yang tepat, hingga partisipasi masyarakat harus berjalan bersama agar pengelolaan sumber daya air mampu menjawab tantangan perubahan iklim di masa depan," pungkasnya.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut