get app
inews
Aa Text
Read Next : Operasional MBG Disetop Saat Libur Sekolah, Pakar Ingatkan Pentingnya Evaluasi Menyeluruh

Harga Ayam dan Telur Mulai Naik, Dosen UMY Sebut Dampak MBG dan Berakhirnya Bulan Suro

Jum'at, 17 Juli 2026 | 18:57 WIB
header img
Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dinda Aslam Nurul Hida, S.P., M.Si. (Foto: Istimewa).

YOGYAKARTA, iNewsSragen.id – Harga ayam broiler dan telur ayam ras mulai naik seiring kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pascalibur sekolah. Peningkatan permintaan tersebut juga terjadi bersamaan dengan berakhirnya Bulan Suro, yang selama ini identik dengan rendahnya aktivitas hajatan dan konsumsi pangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 14 Juli 2026, harga ayam broiler naik 4,11 persen dalam sepekan menjadi Rp21.736 per kilogram. Sementara harga telur ayam ras meningkat 0,66 persen menjadi Rp22.644 per kilogram.

Kenaikan ini menjadi sinyal pemulihan setelah pada awal Juli 2026 harga ayam broiler sempat turun hingga sekitar Rp14.000 per kilogram akibat kelebihan pasokan (oversupply).

Dosen Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dinda Aslam Nurul Hida, S.P., M.Si., menilai kenaikan harga tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan musiman (demand shock) yang berasal dari dua faktor, yakni berakhirnya Bulan Suro dan kembali bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis setelah masa libur sekolah.

"Ini merupakan bentuk demand shock musiman karena dua faktor, yakni berakhirnya periode Suro dan reaktivasi Program Makan Bergizi Gratis pascalibur sekolah. Fluktuasi harga yang cukup volatil ini mengindikasikan bahwa elastisitas penawaran di sektor hulu belum sepenuhnya fleksibel. Karena itu, diperlukan penguatan buffer stock agar perubahan permintaan dalam skala besar dapat diredam secara lebih bertahap," ujar Dinda, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, dengan anggaran Program Makan Bergizi Gratis mencapai Rp70,2 triliun dan target layanan 61,96 juta penerima manfaat, program tersebut menjadi salah satu sumber permintaan pangan terbesar di Indonesia. Kondisi itu ikut memengaruhi dinamika harga pangan, di tengah inflasi kelompok volatile food yang tercatat mencapai 6,44 persen.

Meski demikian, Dinda menilai perhatian tidak hanya perlu difokuskan pada kenaikan harga, tetapi juga pada distribusi manfaat ekonomi di sepanjang rantai pasok.

"Fokus evaluasi kita adalah transmisi harga. Kita harus memastikan apakah surplus dari kenaikan harga eceran benar-benar diterima oleh produsen di tingkat hulu atau justru berhenti di tengkulak. Efisiensi yang berkeadilan dalam rantai pasok sama pentingnya dengan peningkatan volume produksi," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga pangan tidak sepenuhnya dipicu oleh Program Makan Bergizi Gratis. Sejumlah faktor lain turut memengaruhi, seperti kenaikan biaya operasional nelayan yang berdampak pada harga ikan segar serta kendala tata niaga impor yang menyebabkan harga bawang putih meningkat di ratusan kabupaten/kota.

Untuk komoditas ayam dan telur, Dinda memperkirakan kenaikan harga bersifat sementara karena siklus produksinya relatif singkat. Namun, tekanan terhadap harga beras berpotensi berlangsung lebih lama apabila peningkatan permintaan tidak diimbangi dengan kenaikan kapasitas produksi.

"Untuk komoditas dengan siklus produksi pendek seperti ayam dan telur, ini merupakan koreksi jangka pendek menuju titik keseimbangan baru. Namun untuk beras, tekanannya cenderung lebih persisten apabila permintaan terus meningkat tanpa diimbangi ekspansi kapasitas produksi di sektor hulu," jelasnya.

Pemerintah sendiri telah menetapkan harga acuan pembelian di tingkat peternak sejak 6 Juli 2026, yakni Rp19.500 per kilogram untuk ayam hidup dan Rp24.000 per kilogram untuk telur ayam ras.

Menurut Dinda, kebijakan tersebut perlu diikuti dengan pengawasan yang konsisten agar benar-benar memberikan perlindungan bagi peternak mandiri.

"Harga acuan jangan hanya menjadi referensi, tetapi harus menjadi rujukan utama dalam kontrak pengadaan. Tanpa pengawasan yang konsisten, peternak tetap rentan ketika menghadapi penurunan permintaan," pungkasnya.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut