PB XIV Hangabehi Pimpin Wilujengan Sekaten, LDA Keraton Surakarta Luruskan Makna Filosofis Alun-Alun
SOLO,iNewsSragen.id — Keraton Kasunanan Surakarta menggelar prosesi Wilujengan Pembukaan Sekaten yang dipimpin PB XIV Hangabehi, Minggu (2/8/2026).
Kehadiran Raja Keraton Surakarta tersebut menjadi penanda resmi dimulainya rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Alun-Alun Utara.
Usai memimpin doa dan prosesi ritual adat, PB XIV Hangabehi melanjutkan agenda dengan meninjau secara langsung sejumlah stan pedagang yang memadati kawasan Alun-Alun Utara.
Momen peninjauan tersebut menunjukkan dukungan penuh keraton terhadap geliat ekonomi masyarakat serta UMKM yang berpartisipasi dalam perayaan tradisi tahunan ini.
Di saat yang sama, Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), memberikan penjelasan tegas untuk meluruskan makna lokasi perayaan Sekaten.
Penjelasan ini disampaikan guna merespons dinamika munculnya aktivitas pasar malam di kawasan Alun-Alun Selatan (Kidul).
Gusti Moeng menegaskan bahwa sepanjang sejarah ratusan tahun sejak Keraton Surakarta berdiri, pusat perayaan Sekaten hanya digelar di Alun-Alun Utara.
"Secara filosofis dan historis, sejak Keraton Surakarta ini berdiri ratusan tahun lalu, keramaian Sekaten itu ya di Alun-Alun Utara. Sementara Alun-Alun Kidul itu secara filosofis 'awang-uwung' (kosong)," ujar Gusti Moeng.
Ia mengungkapkan bahwa kawasan Alun-Alun Selatan sebenarnya merupakan ruang terbuka yang hening. Dibukanya Alun-Alun Selatan untuk pedagang pada masa lalu berawal dari pertimbangan kebutuhan internal keraton (ngupaya redana/ mencari dana) yang kemudian berlanjut hingga saat ini.
Namun secara aturan adat (paugeran), hal tersebut tidak mengubah marwah Alun-Alun Utara sebagai satu-satunya arena Sekaten yang sah.
Lebih lanjut, Gusti Moeng menggarisbawahi perbedaan mendasar antara ritual adat Sekaten dan pasar malam komersial biasa. Menurutnya, perayaan Sekaten yang autentik harus mencakup unsur sakral dan ritual budaya keraton.
"Ada prosesi adat sakral melibatkan Grebeg, prosesi miyos (keluarnya) Gamelan Sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) ke Masjid Agung, hingga perayaan puncak Maulid Nabi," terangnya.
Sedangkan pasar malam biasa, lanjutnya, adalah kegiatan yang hanya menyajikan wahana hiburan dan jual-beli tanpa disertai prosesi adat kebudayaan keraton.
Gusti Moeng menambahkan, indikator utama perayaan Sekaten dari zaman dahulu hingga kini adalah ketika antusiasme warga dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke kawasan Alun-Alun Utara dan Masjid Agung saat gamelan sakral mulai ditabuh.
Editor: Joko Piroso