Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : PB XIV Hangabehi Salurkan 75 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Wonogiri
Advertisement . Scroll to see content

Tembakau dan Harapan Baru di Musim Kemarau bagi Petani Wonogiri

Senin, 21 September 2026 | 18:33 WIB
  • author SM Said
Tembakau dan Harapan Baru di Musim Kemarau bagi Petani Wonogiri
Budidaya tembakau menjadi peluang petani Wonogiri saat kemarau. Pendampingan dan pola tanam bergantian membantu meningkatkan produktivitas serta ekonomi keluarga. Foto ist

WONOGIRI, iNewsSragen.id - Musim kemarau kerap menjadi tantangan bagi petani di Wonogiri karena keterbatasan air membuat sebagian lahan pertanian tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Namun, kondisi tersebut justru menjadi peluang bagi sejumlah petani untuk mengembangkan budidaya tembakau.

Salah satunya Katino (46), petani asal Eromoko, Wonogiri. Sebelum menekuni pertanian, Katino bekerja sebagai sopir truk. Ketertarikannya menjadi petani tembakau bermula ketika melihat seorang petani berusia sekitar 70 tahun menjual hasil panen di sebuah gudang.

Pemandangan tersebut membuat Katino melihat adanya peluang ekonomi dari sektor pertanian. Ia kemudian memutuskan serius menekuni budidaya tembakau sejak 2019.

Awalnya, Katino belajar dari petani lain. Ia kemudian memperoleh pendampingan melalui kemitraan dengan PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) melalui salah satu perusahaan pemasoknya.

Pendampingan tersebut membuat Katino memahami berbagai tahapan budidaya, mulai dari pembibitan hingga penanganan tanaman menjelang panen.

“Dari awal tanam itu kan ada proses pembibitan, saya dikasih tahu cara penyebaran benihnya, cara ngerawat bibitnya harus berapa hari atau berapa jam. Terus diajarin juga cara nyebar yang benar gimana, cara pemupukan pupuk dasarnya gimana, sampai proses penyiramannya pun semua dikasih tahu. Dengan adanya pendamping lapangan, kita yang awalnya dari awal gak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu,” tutur Katino.

Melalui pendampingan tersebut, Katino tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga memahami pentingnya menentukan waktu tanam, memilih benih, melakukan pemupukan, serta mengelola air secara tepat.

Budidaya tembakau juga dinilai sesuai dengan kondisi lahan di Wonogiri yang menghadapi keterbatasan air ketika musim kemarau. Tanaman tersebut tidak membutuhkan pasokan air sebanyak sejumlah komoditas lain sehingga lahan tetap dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

Ketekunan Katino mulai memberikan hasil. Sejak 2023, kondisi ekonominya berangsur membaik. Ia bahkan dapat membeli lahan sawah baru untuk mengembangkan usaha taninya.

Saat ini, Katino mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan yang tersebar di tiga lokasi, ditambah satu lahan sewa. Ia juga mempekerjakan sejumlah buruh tani untuk mendukung pola tanam bergantian antara musim hujan dan kemarau.

Pengalaman serupa juga dialami Purwanto (34), petani tembakau lainnya di Wonogiri. Sebelum menjadi petani, Purwanto sempat merantau ke Jakarta dan bekerja di perusahaan swasta.

Ia kemudian memilih pulang ke kampung halaman untuk menemani kedua orangtuanya sekaligus mengelola lahan warisan keluarga. Dari sinilah Purwanto mulai mengenal budidaya tembakau.

“Saya pulang ketika musim kemarau. Tetangga-tetangga tanam tembakau. Saya mulai belajar ikut menanam. Awalnya tidak banyak, hanya untuk belajar,” kenang Purwanto.

Purwanto kemudian mengikuti kemitraan melalui perusahaan pemasok Sampoerna. Ia mendapatkan penyuluhan, bimbingan teknis, hingga pendampingan selama proses budidaya.

“Kita dapat penyuluhan, bimbingan teknis, dan pendampingan untuk penanamannya. Mulai dari pembibitan, penanaman, bahkan sampai pascapanen pun kita masih didampingi oleh petugas lapangan.”

Menurut Purwanto, pendampingan tersebut membuat pengelolaan tanaman menjadi lebih terarah. Ia tidak lagi hanya mengandalkan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sekitar, tetapi juga menerapkan berbagai teknik budidaya yang dipelajari selama mengikuti program.

Pengetahuan tersebut membantu Purwanto menjaga kualitas tanaman sejak pembibitan hingga pascapanen. Hasil penjualan tembakau juga dapat digunakan untuk mempersiapkan modal musim tanam berikutnya.

“Kalau sekarang, sebagian hasilnya bisa kami sisihkan untuk modal musim tanam berikutnya. Jadi kebutuhan untuk pupuk, padi, maupun tembakau bisa dipersiapkan lebih awal,” jelas Purwanto.

Dampak ekonomi dari hasil pertanian juga dirasakan keluarga Purwanto. Rumah orangtuanya yang sebelumnya berdinding kayu kini telah direnovasi menjadi rumah tembok yang lebih layak.

Menurut dia, manfaat budidaya tembakau juga dirasakan masyarakat di sekitarnya. Hasil panen turut menggerakkan aktivitas ekonomi warga, termasuk untuk memenuhi kebutuhan transportasi dan jasa angkutan.

“Setelah panen tembakau, ada yang beli mobil keluarga buat disewain. Ada juga yang beli mobil jasa angkut barang,” imbuhnya.

Sementara itu, kemitraan dengan petani tembakau dilakukan melalui penerapan Praktik Pertanian yang Baik atau Good Agricultural Practices (GAP) dan Kode Praktik Pekerja Pertanian atau Agricultural Labor Practices (ALP).

Pendekatan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari teknik budidaya, pengelolaan lahan dan air, pemupukan, hingga penanganan pascapanen. Aspek ketenagakerjaan juga menjadi bagian dari pendampingan, termasuk keselamatan dan kesehatan kerja, pencegahan pekerja anak, serta penghormatan terhadap hak pekerja pertanian.

Hingga kini, Sampoerna menyebut telah mendampingi lebih dari 22.500 petani tembakau dan cengkih melalui penerapan berbagai praktik pertanian dan pendampingan.

Bagi Katino dan Purwanto, tembakau bukan sekadar tanaman yang dibudidayakan saat musim kemarau. Komoditas tersebut menjadi salah satu pilihan untuk menjaga lahan tetap produktif sekaligus membuka peluang pendapatan bagi keluarga petani.

Pola tanam bergantian antara musim hujan dan kemarau juga memungkinkan petani tetap mengembangkan komoditas pangan, termasuk padi. Dengan demikian, pemanfaatan lahan dapat terus berjalan sesuai kondisi musim dan ketersediaan air.

Editor: Suriya Mohamad Said

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut