Belasan komunitas Go-Jek Sragen.Foto:iNews/Joko P
Cahyo menegaskan bahwa doa bersama ini bukan sekadar bentuk duka, tetapi juga simbol solidaritas antar-sesama driver ojol. Mereka berharap agar insiden serupa tidak terulang kembali dan ada langkah nyata dari pihak berwenang untuk menegakkan keadilan. Menurutnya, sudah seharusnya oknum aparat yang terlibat dalam insiden tersebut diproses sesuai hukum, sementara keluarga korban mendapat perhatian dan perlindungan dari pemerintah.
Mengenai pembatalan aksi di alun-alun, Cahyo menjelaskan bahwa keputusan itu diambil dengan pertimbangan menjaga ketertiban umum.
“Banyak toko yang sempat tutup akibat beredarnya informasi aksi itu. Jadi demi kondusivitas di Sragen, kami memutuskan untuk tidak jadi menggelar di alun-alun. Namun solidaritas tetap kami wujudkan melalui aksi damai,” terangnya.
Selain doa, aksi solidaritas tersebut juga diisi dengan penggalangan dana untuk membantu keluarga almarhum. Dengan dukungan Polres Sragen, terkumpul dana sebesar Rp 2,6 juta yang nantinya akan disalurkan kepada keluarga Affan.
Aksi kecil namun penuh makna ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan kebersamaan antar-driver ojol, meski mereka tersebar di berbagai daerah. Tragedi yang menimpa Affan menjadi pengingat bahwa profesi sebagai pengemudi ojol tidak lepas dari risiko di jalan, termasuk ketika mereka berada dalam situasi yang penuh kerumunan massa.
Solidaritas ini juga menjadi pesan moral bahwa keadilan harus ditegakkan, transparansi dalam penanganan kasus harus dikedepankan, dan aparat perlu lebih berhati-hati dalam menghadapi aksi massa agar tidak menimbulkan korban jiwa di kemudian hari.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait