SUKOHARJO,iNewsSragen.id - Suasana khidmat dan sakral menyelimuti Bangsal Petilasan Keraton Kartasura saat prosesi tasakuran pembuatan keris Kyai Kertasura pada, Sabtu (5/9/2026) malam.
Acara umbul donga yang dipadu dengan alunan dzikir dan solawat dari majelis Mocopat Njeng Sunan tersebut menandai penyerahan resmi keris dari sang pembuat, Empu Taufik Brojo Lawu asal Karanganyar, kepada panitia.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh komunitas Malikasura (Masyarakat Peduli Keraton Kartasura) serta para pegiat budaya dari Solo, Klaten, Wonogiri, hingga Boyolali.
Koordinator acara sekaligus pemrakarsa pembuatan keris, KRAT Muhammad Budiman Adinegoro (Budi AJM), mengungkapkan bahwa proses karya ini diawali pada 30 Juni 2026 lalu melalui gerakan Urunan Gawe Keris. Ia menegaskan bahwa keris ini memuat doa dan harapan besar bagi kemakmuran masyarakat, khususnya di Kartasura.
"Alhamdulillah, keris Kyai Kertasura yang kemarin kita buat sudah jadi. Hari ini tadi serah terima dari sang empu yang membuat keris ke panitia pembuatan keris, lalu kita lanjut dengan umbul donga," ujar Budi.
Budi menjelaskan makna spiritual di balik pemilihan material dan motif keris, bahwa materialnya dari Panca Datu atau perpaduan lima unsur logam bumi, yakni besi, perak, perunggu, tembaga, dan emas.
"Kemudian ditambah, salah satu anggota kami menemukan keris tua yang sudah rusak di sini (Petilasan Keraton Kartasura), lalu kita lebur dijadikan satu untuk bahan keris," jelasnya.
Selanjut, Budi menyebut ada unsur angkasa didalam proses pembuatan keris, yakni menyatukan material meteorit dan air hujan.
"Bumi dan langit kita satukan jadi satu, kita manifestasikan jadi doa yang diwujudkan dengan keris," terangnya.
Menyinggung tentang pamor keris, ia mengatakan Kyai Kertasura memiliki pamor Udan Mas dan Beras Wutah.
"Harapannya warga Kartasura itu supaya gemah ripah loh jinawi, pangan turah-turah, serta jauh dari bencana," tutur Budi.
Ditambahkan, keris Kyai Kertasura ini nantinya disimpan di area Bangsal Petilasan Keraton Kartasura dan direncanakan bakal diarak setiap tahun sebagai tradisi ritual tolak bala.
Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Kusumo Putro, yang hadir langsung di lokasi mengapresiasi karya pusaka tersebut. Menurutnya, kehadiran keris Kyai Kertasura berpotensi menjadi ikon kebudayaan baru bagi Kabupaten Sukoharjo.
"Membuat keris di era sekarang kan tidak mudah, apalagi keris ini campurannya ada meteor, nikel, besi, dan campuran keris aus yang ditemukan di bekas Keraton Kartasura. Hari ini saya mengapresiasi dan sangat senang sekali melihat kegiatan yang mempunyai tujuan nguri-uri budaya," tegasnya.
Ia pun berharap Pemkab Sukoharjo melalui dinas terkait memberikan perhatian lebih terhadap seni budaya lokal.
"Perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sukoharjo saya mohon juga tidak hanya sekadar omon-omon, tetapi benar-benar bisa ikut ambil bagian dalam rangka pelestarian kebudayaan, khususnya seni membuat keris," pungkasnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
