YOGYAKARTA, iNewsSragen.id – Kericuhan aksi demonstrasi di Simpang Empat Gramedia Yogyakarta terjadi setelah gesekan antara massa aksi dan kelompok yang mengaku sebagai warga.
Sejumlah mahasiswa mengalami luka dan sempat mendapatkan perawatan medis. Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut keributan bermula dari kesalahpahaman antara massa aksi dan warga sekitar terkait penutupan jalan serta pelaksanaan aksi hingga malam hari.
Kepolisian kemudian melakukan mediasi dan pengamanan untuk mencegah situasi berkembang lebih luas.
Peristiwa tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai penyelesaian konflik sosial dalam negara hukum. Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Sunyoto Usman, M.A., menilai kecenderungan menyelesaikan persoalan dengan kekuatan sendiri dapat menjadi indikasi munculnya public distrust atau ketidakpercayaan terhadap institusi hukum.
“Dugaan saya sekarang sudah terjadi public distrust, sudah tidak ada kepercayaan publik. Sehingga kalau ada masalah itu tidak lapor polisi atau tidak melakukan jalur-jalur hukum yang benar, tapi sudah dihakimi,” ujar Sunyoto saat dihubungi secara daring, Kamis (3/9/2026).
Aksi di kawasan Simpang Gramedia pada 1 September 2026 awalnya berlangsung kondusif. Situasi kemudian memanas setelah terjadi gesekan antara massa aksi dan sekelompok orang yang disebut mengaku sebagai warga.
Polda DIY menyampaikan sempat terjadi saling dorong. Dalam situasi tersebut, sejumlah peserta aksi disebut panik dan terjatuh, sementara beberapa demonstran kemudian mendapat perawatan medis.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
