SRAGEN, iNewsSragen.id — Plafon ruang guru SD Negeri 2 Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, ambruk pada Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Material plafon mengenai dua guru yang berada di dalam ruangan.
Peristiwa tersebut terjadi saat jam istirahat. Sebelum plafon ambruk, sejumlah guru mengaku mendengar suara retakan dari arah atap sejak sekitar pukul 07.00 WIB.
Para guru kemudian memindahkan sejumlah barang elektronik dan perabotan dari ruang guru untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan lebih lanjut.
Namun, sekitar pukul 09.15 WIB, sejumlah guru kembali berada di ruangan untuk beristirahat. Tak lama kemudian, plafon berukuran sekitar 8 x 7 meter mendadak ambruk.
Material plafon mengenai dua guru. Fitri dilaporkan mengalami syok hingga hampir pingsan. Sementara Intan mengalami luka lecet ringan.
Kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak sekolah. Kondisi bangunan selanjutnya mendapat pemeriksaan dari jajaran terkait.
Kepala SDN 2 Cepoko Dwi Rahayu mengatakan bangunan sekolah sebelumnya telah mendapat rehabilitasi melalui bantuan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
"Sebelumnya, pernah direhab, terakhir pembangunan tahun 2021 dari PUPR Pusat," kata Dwi Rahayu, Kamis (8/10/2026).
Kerusakan plafon dan bagian dinding yang mengalami retak diperkirakan menimbulkan kerugian materiil sekitar Rp50 juta.
Informasi awal di lokasi menyebut terdapat keretakan pada sejumlah bagian bangunan. Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan persoalan struktur dan pergerakan tanah. Namun, penyebab pasti ambruknya plafon masih menunggu pemeriksaan teknis.
Kepala Disdikbud Kabupaten Sragen bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sragen telah mengecek kondisi bangunan SDN 2 Cepoko setelah kejadian.
Pemerintah daerah akan mengupayakan perbaikan melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Sragen 2026. Langkah tersebut ditempuh karena pengajuan melalui anggaran reguler tahun berjalan sudah tidak memungkinkan.
"Kita membuat RAB, kita upayakan penganggaran dari BTT. Kalau dari reguler, pengajuan langsung APBD Sragen 2026 sudah tidak bisa," kata pihak Disdikbud Sragen.
Pemerintah daerah terlebih dahulu akan menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk menentukan kebutuhan penanganan bangunan.
Rencana perbaikan tidak hanya menyasar plafon yang ambruk. Struktur bangunan juga akan diperkuat, termasuk bagian kuda-kuda pada tiga ruang serta struktur dinding dan bagian bangunan lainnya.
Pemeriksaan teknis diperlukan untuk menentukan bagian bangunan yang perlu diperbaiki dan diperkuat. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada plafon yang ambruk, tetapi juga kondisi struktur bangunan secara keseluruhan.
Sementara itu, Kepala Desa Cepoko Ngadiman meminta kondisi bangunan sekolah segera dievaluasi secara menyeluruh. Ia mengaku khawatir melihat adanya retakan pada tanah dan sejumlah bagian bangunan di sekitar sekolah.
Menurut Ngadiman, kondisi tanah perlu menjadi perhatian, terutama ketika memasuki musim hujan. Ia khawatir perubahan kondisi tanah dapat berdampak terhadap bangunan yang sudah mengalami keretakan.
"Pengharapan saya ya segera dievaluasi, karena itu tanahnya labil," kata Ngadiman.
Ngadman juga meminta pihak berwenang mempertimbangkan aspek keselamatan sebelum ruangan atau bagian bangunan yang mengalami kerusakan kembali digunakan.
Ia menyebut jumlah siswa di SDN 2 Cepoko masih lebih dari 100 orang. Karena itu, menurutnya, keamanan bangunan perlu dipastikan agar kejadian serupa tidak menimbulkan korban lebih serius.
Pemerintah desa, lanjut Ngadman, tidak memiliki kewenangan untuk menentukan anggaran perbaikan sekolah. Karena itu, ia berharap penanganan dapat segera dilakukan oleh instansi yang berwenang.
Untuk sementara, kondisi bangunan masih membutuhkan pemeriksaan teknis. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan bagian yang harus diperbaiki maupun diperkuat.
Pemkab Sragen selanjutnya menunggu penyusunan RAB dan proses penganggaran BTT APBD 2026 untuk penanganan SDN 2 Cepoko.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
