Sementara itu, KPH Raditya Lintang Sasangka menjelaskan, tradisi wayangan Anggara Kasih telah berlangsung sejak era Pakubuwono IV dan kembali dihidupkan pada masa PB XIV Hangabehi.
Pagelaran kali ini mengangkat lakon Dewa Ruci, kisah perjalanan Bima mencari hakikat pengetahuan dan jati diri. Cerita tersebut sarat nilai keberanian, keteguhan, dan pencarian makna kehidupan.
Keterlibatan PB XIV Hangabehi dalam memainkan wayang serta penggunaan Kanjeng Kiai Jimat menjadi bagian dari kesinambungan tradisi pedalangan keraton. Pelestarian warisan budaya tidak hanya dilakukan melalui perawatan pusaka, tetapi juga dengan menjaga praktik seni dan pengetahuan agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
