Kasus TBC Tinggi, Sumberlawang Hadirkan Strategi Skrining Berbasis Komunitas
SRAGEN, iNewsSragen.id – Tingginya angka kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia mendorong berbagai daerah melakukan inovasi dalam penanganan. Salah satunya dilakukan Puskesmas Sumberlawang, Kabupaten Sragen, melalui program “Si Jempol Tomas” atau Skrining Jemput Bola TBC Berbasis Komunitas.
Kepala Puskesmas Sumberlawang, dr. Novia Dyah Indriyati, menjelaskan program ini menjadi langkah strategis untuk mengubah pola layanan kesehatan dari pasif menjadi proaktif. Jika sebelumnya tenaga medis menunggu pasien datang, kini petugas turun langsung ke masyarakat.
“Kami tidak lagi sekadar menunggu pasien. Melalui program ini, petugas mendatangi rumah warga untuk melakukan skrining sekaligus memberikan edukasi,” ujarnya.
Langkah tersebut diambil menyusul tingginya angka kasus TBC. Berdasarkan data tahun 2024, secara nasional terdapat sekitar 885.000 kasus. Jawa Tengah termasuk tiga besar provinsi dengan kasus tertinggi, dengan estimasi mencapai 107.685 kasus. Sementara di Kabupaten Sragen tercatat 1.535 kasus, termasuk ratusan kasus pada anak.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena masih banyak penderita yang belum terdeteksi atau enggan memeriksakan diri, baik karena keterbatasan akses layanan kesehatan maupun adanya stigma di masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, program “Si Jempol Tomas” melibatkan kader masyarakat yang disebut “Trendi TBC”. Para kader ini menjadi ujung tombak dalam mendeteksi gejala awal di lingkungan sekitar, memberikan edukasi terkait pencegahan, serta mendampingi pasien selama menjalani pengobatan hingga tuntas.
Selain itu, program ini didukung sistem pelaporan digital sederhana yang memungkinkan hasil skrining di lapangan langsung terhubung dengan data Puskesmas. Hal ini mempercepat proses penanganan bagi warga yang terindikasi TBC.
Sejumlah capaian awal menunjukkan hasil positif. Pada 2024, jumlah warga yang menjalani skrining tercatat sebanyak 567 orang, meningkat menjadi 716 orang pada 2025. Sementara itu, temuan kasus TBC meningkat dari 53 kasus pada 2024 menjadi 178 kasus pada 2025, yang menunjukkan peningkatan deteksi dini di masyarakat.
Program ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya menjangkau kelompok rentan, memanfaatkan sumber daya lokal, serta mengintegrasikan proses skrining hingga pengobatan dalam satu sistem yang berkelanjutan.
Ke depan, Puskesmas Sumberlawang menargetkan peningkatan angka kesembuhan sekaligus penurunan angka penularan TBC. Upaya ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap target eliminasi TBC secara nasional.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, diharapkan tidak ada lagi kasus yang luput dari deteksi. Penanganan sejak dini dinilai menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut.
“TBC bisa disembuhkan jika ditemukan lebih awal dan diobati sampai tuntas. Program ini hadir untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam layanan kesehatan,” tegasnya.
Editor : Joko Piroso