Kasus Ebola Kembali Merebak, Pakar UMY Dorong Indonesia Perkuat Kesiapsiagaan Penyakit Menular
Ia menjelaskan, penetapan status PHEIC oleh WHO tidak hanya berkaitan dengan jumlah kasus, tetapi juga menjadi dorongan bagi negara-negara untuk memperkuat deteksi dini, pelaporan, serta respons kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pengalaman berbagai wabah sebelumnya menunjukkan bahwa keterlambatan dalam mengenali dan menangani kasus dapat meningkatkan risiko penyebaran lebih luas.
Sebagai negara dengan mobilitas internasional yang tinggi dan banyak pintu masuk seperti bandara serta pelabuhan, Indonesia dinilai perlu terus memperkuat pengawasan kesehatan.
“Pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari wilayah terdampak perlu diperkuat, termasuk kesiapan petugas kesehatan, prosedur rujukan, sistem kewaspadaan dini, hingga dukungan laboratorium untuk mendeteksi kasus secara cepat,” jelasnya.
Farindira menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi Ebola tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan sistem kesehatan nasional.
Menurutnya, kemampuan menghadapi ancaman penyakit menular bergantung pada berbagai aspek, mulai dari surveilans penyakit, kekarantinaan kesehatan, kapasitas laboratorium, perlindungan tenaga kesehatan, hingga komunikasi publik.
“Kesiapsiagaan wabah bukan hanya tentang memahami cara penularan atau pengobatan. Yang penting adalah kemampuan sistem kesehatan mengenali tanda bahaya sejak dini, melakukan pelacakan, menyediakan fasilitas, dan memastikan koordinasi berjalan dengan baik,” katanya.
Editor : Joko Piroso