get app
inews
Aa Text
Read Next : Petani Tebu Blora Kecewa, 18 Truk Muatan Tebu Ditumpahkan di Depan Pabrik Gula

Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam di Blora Terancam Gulung Tikar

Kamis, 02 Juli 2026 | 19:10 WIB
header img
Ketua Paguyuban Peternak Telur Blora, Suwito, menunjukkan pakan ayam dan hasil produksi telur di kandangnya. (Foto:iNews/Heri P).

BLORA, iNewsSragen.idPeternak ayam petelur di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, tengah menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur di tingkat peternak. Di saat harga jual terus menurun, biaya produksi, khususnya pakan ternak, masih bertahan tinggi sehingga keuntungan peternak semakin tergerus.

Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam keberlangsungan usaha peternakan rakyat apabila tidak segera diikuti perbaikan harga di pasaran.

Ketua Paguyuban Peternak Telur Blora, Suwito, mengatakan harga telur yang rendah tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan peternak setiap hari.

"Harga pakan tinggi, sementara harga telur turun. Kondisi ini membuat peternak terus merugi," ujarnya.

Menurut Suwito, salah satu penyebab melemahnya harga telur adalah menurunnya permintaan pasar. Selain itu, berakhirnya kebutuhan pasokan telur untuk sejumlah program, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa wilayah, turut memengaruhi tingkat serapan hasil produksi peternak.

Namun demikian, beban terbesar justru berasal dari tingginya harga pakan ternak. Sebagian besar bahan baku pakan masih bergantung pada pasokan impor sehingga biaya produksi belum mengalami penurunan meski harga telur terus melemah.

Ia menjelaskan, peternak dengan populasi sekitar 1.000 ekor ayam petelur yang menghasilkan rata-rata 50 kilogram telur per hari saat ini diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp3.000 per kilogram.

Dengan harga jual telur di tingkat peternak yang berkisar Rp20.000 per kilogram, kerugian yang ditanggung dapat mencapai sekitar Rp4,5 juta setiap bulan.

Apabila kondisi tersebut terus berlangsung, banyak peternak diperkirakan tidak mampu mempertahankan usahanya.

"Kalau dalam waktu sekitar satu bulan belum ada perbaikan harga, banyak peternak kemungkinan tidak sanggup bertahan," kata Suwito.

Saat ini para peternak memilih tetap menjalankan usaha sambil berharap kondisi pasar segera membaik. Mereka juga berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur sekaligus menjaga keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

"Kami berharap pemerintah segera mengambil langkah agar harga telur kembali stabil sehingga peternak bisa bertahan," ujarnya.

Anjloknya harga telur di tingkat peternak dinilai tidak hanya berdampak terhadap pendapatan peternak, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlanjutan sektor peternakan rakyat di daerah sentra produksi seperti Kabupaten Blora.

Para peternak berharap adanya kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan antara harga jual telur dan biaya produksi sehingga usaha peternakan tetap berjalan dan mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut