Bertahan di Tengah Zaman, Perajin Tatah Sungging Wayang Kulit Bantul Ini Karyanya Tembus Mancanegara
BANTUL, iNewsSragen.id – Di usia 68 tahun, Subandi Giyanto masih setia menekuni seni tatah sungging wayang kulit sekaligus mengembangkan lukisan wayang di Bantul.
Subandi mulai mengenal dunia tatah sungging sejak 1965. Ketertarikannya muncul karena sejak kecil ia sering memperhatikan ayahnya yang berprofesi sebagai perajin wayang kulit berbahan kulit kerbau. Dari proses belajar secara turun-temurun itulah kemampuan membuat wayang kulit terus diasah hingga menjadi mata pencaharian sekaligus pengabdian terhadap budaya.
Seiring berjalannya waktu, permintaan terhadap wayang kulit tidak lagi sebesar dulu. Kondisi tersebut mendorong Subandi untuk berinovasi agar tetap dapat berkarya tanpa meninggalkan akar tradisi.
Ia kemudian mengembangkan seni lukis bertema tokoh-tokoh pewayangan dengan pendekatan yang lebih modern. Selain melukis di atas kanvas, Subandi juga menguasai teknik melukis pada media kaca, salah satu keterampilan yang kini semakin langka.
Berbagai karya tersebut mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan dari pemerintah serta dipercaya mengikuti berbagai pameran dan kegiatan seni budaya di berbagai daerah.
Bagi Subandi, usia bukan alasan untuk berhenti berkarya. Ia tetap mempertahankan teknik melukis secara manual sebagai bentuk komitmen menjaga warisan budaya agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Menurutnya, setiap tokoh wayang yang dituangkan dalam lukisan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan dan dapat menjadi media penyampaian pesan sosial kepada masyarakat.
Ketekunannya selama puluhan tahun membuahkan hasil. Karya-karyanya, baik berupa wayang kulit, lukisan kanvas maupun lukisan kaca, tidak hanya diminati kolektor dalam negeri, tetapi juga telah menjadi koleksi pecinta seni dari berbagai negara.
Dalam proses pembuatannya, setiap karya membutuhkan waktu berbeda-beda sesuai tingkat kerumitan. Untuk sebuah lukisan wayang di atas kanvas, misalnya, Subandi memerlukan waktu sekitar dua bulan hingga selesai.
Sementara itu, melukis di atas kaca memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi karena seluruh proses dilakukan dari sisi belakang kaca dengan teknik terbalik. Ketelitian dan pengalaman menjadi kunci agar hasil akhir sesuai dengan rancangan.
Lurah Bangunjiwo, Parja, mengatakan Subandi merupakan salah satu tokoh seni di wilayahnya yang sejak kecil telah menekuni kerajinan tatah sungging wayang kulit.
Menurutnya, hingga kini Subandi masih aktif berkarya sekaligus membuka kesempatan bagi anak-anak muda maupun masyarakat yang ingin belajar seni lukis dan tatah sungging sebagai upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya.
"Pemerintah kalurahan mengapresiasi dedikasi beliau dalam melestarikan seni tradisional. Kehadiran seniman seperti Pak Subandi menjadi aset budaya yang perlu dijaga bersama sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda," ujarnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, ketekunan Subandi menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Melalui karya-karyanya, nilai-nilai pewayangan tetap hidup dan terus dikenalkan kepada masyarakat lintas generasi.
Editor : Joko Piroso