get app
inews
Aa Text
Read Next : Warga Tangkap Pria di Bantul, Polisi Sita 0,33 Gram Sabu dalam Bungkus Kopi

Dubes RI untuk Vatikan: Diplomasi Berbasis Agama Penting untuk Selesaikan Konflik Global

Jum'at, 07 Agustus 2026 | 19:29 WIB
header img
Dubes RI untuk Tahta Suci Vatikan, Michael Trias Kuncahyono, menjadi keynote speaker dalam ICoSI 2026 di UMY, Rabu (5/8/2026). Foto: Istimewa

BANTUL, iNewsSragen.id – Michael Trias Kuncahyono menilai dialog dan diplomasi berbasis agama menjadi pelengkap penting dalam penyelesaian konflik internasional. Menurutnya, diplomasi berbasis agama perlu menjadi pelengkap dalam upaya membangun perdamaian dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Michael saat menjadi keynote speaker dalam The 10th International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) 2026 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (6/8/2026).

Ia menjelaskan bahwa dinamika diplomasi internasional saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor politik domestik maupun hubungan antarnegara, tetapi juga dipengaruhi aspek budaya dan agama yang semakin kompleks.

"Aktivitas diplomatik hari ini dipengaruhi konteks budaya dan agama, selain faktor politik domestik dan internasional. Karena itu, pendekatan berbasis keyakinan menjadi hal yang esensial dalam diplomasi internasional saat ini," ujar Michael.

Menurutnya, diplomasi berbasis agama menempatkan tokoh serta lembaga keagamaan sebagai mitra negara dalam membangun dialog, menjembatani komunikasi, dan memfasilitasi negosiasi di antara pihak-pihak yang berkonflik.

Ia menilai, pendekatan diplomasi yang semata-mata bersifat sekuler kerap menghadapi keterbatasan ketika berhadapan dengan konflik yang berakar pada persoalan keyakinan.

"Diplomasi sekuler antarnegara kerap gagal menyelesaikan konflik yang berakar pada keyakinan. Diplomasi berbasis agama melibatkan pemuka dan lembaga agama untuk memfasilitasi dialog dan negosiasi di antara pihak yang berkonflik," katanya.

Berangkat dari Pengalaman di Timur Tengah

Michael mengaku pandangannya mengenai pentingnya diplomasi berbasis agama tidak lepas dari pengalaman panjangnya sebagai jurnalis yang pernah meliput berbagai konflik di Timur Tengah, termasuk perang di Irak pada 2003.

Pengalaman tersebut membuatnya menyimpulkan bahwa seorang diplomat tidak hanya perlu memahami isu politik dan keamanan, tetapi juga memiliki literasi agama yang memadai agar mampu memahami akar persoalan secara utuh.

Indonesia Dinilai Menjadi Contoh Kerukunan

Dalam kesempatan itu, Michael juga membagikan pengalamannya saat berdiskusi dengan Paus Fransiskus mengenai keberagaman Indonesia.

Menurutnya, Paus Fransiskus beberapa kali menyampaikan apresiasi terhadap Indonesia sebagai negara yang mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman agama, budaya, dan etnis. Bahkan setelah kunjungan apostolik ke Indonesia berakhir, Paus masih kerap merujuk nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam berbagai pertemuan dengan tamu negara.

"Saya sampaikan kepada Bapa Suci bahwa Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau dengan banyak agama dan ragam etnis, namun tetap bisa bersatu," tutur Michael.

Ia menilai pengalaman Indonesia tersebut dapat menjadi modal diplomatik yang berharga dalam membangun dialog lintas agama di tingkat global.

Michael menegaskan, diplomasi berbasis agama bukan bertujuan mengedepankan satu agama tertentu, melainkan membangun saling pengertian, kepercayaan, dan toleransi antarpemeluk agama sebagai fondasi perdamaian dunia.

Menurutnya, kolaborasi antara negara, tokoh agama, dan masyarakat internasional menjadi elemen penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks, terutama konflik yang dipicu perbedaan identitas dan keyakinan.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut