get app
inews
Aa Text
Read Next : Kericuhan Mewarnai Prosesi  Miyos Gamelan Sekaten 2026 Milik Keraton Surakarta

Resmi Bertakhta, Paku Buwana XIV Hangabehi Jadi Raja Baru Keraton Surakarta

Sabtu, 05 September 2026 | 21:20 WIB
header img
Prosesi ritual Dalem Jumenengan PB XIV Hangabehi. (Foto: iNews / Nanang SN).

SOLO,iNewsSragen.id— Paku Buwana (PB) XIV Hangabehi resmi naik takhta sebagai Raja Keraton Surakarta melalui Dalem Jumenengan, Sabtu (5/9/2026). Prosesi sakral berlangsung dengan tata adat dan amanah leluhur.

Hangabehi resmi bertakhta dalam Dalem Jumenengan Keraton Surakarta Hadiningrat yang digelar bertepatan dengan 22 Maulud Tahun Jawa 1960. Prosesi tersebut menjadi momentum penting bagi keberlanjutan takhta dan tata adat Keraton Surakarta.

Rangkaian jumenengan telah dimulai sehari sebelumnya dengan ruwatan di Pagelaran, Jumat (4/9/2026) sore. Prosesi dilanjutkan gladi bersih atau kirab Bedhaya Ketawang pada malam hari.

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, mengatakan seluruh rangkaian merupakan tata adat untuk melengkapi bertakhtanya PB XIV Hangabehi.

Pada prosesi utama, Sinuwun PB XIV miyos (berjalan keluar) dari kedhaton menuju Pagelaran dengan diiringi kerabat, pengiring, pusaka, ampilan dalem, dan perangkat kesenian.

Dari Pagelaran, Sinuwun kemudian menuju Mangguntur Tangkil di Sitihinggil, di hadapan Meriam Nyai Setomi. Di lokasi tersebut, Paku Buwana XIV menyatakan kesanggupannya menjalankan amanah dan perintah para leluhur.

“Di Mangguntur Tangkil, Sinuwun akan menyampaikan kesanggupannya untuk menjalankan apa yang menjadi amanah dan perintah para leluhur melalui pagelaran atau prosesi adat yang telah diwariskan,” kata Gusti Moeng.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu inti prosesi jumenengan. Naik takhta tidak hanya dimaknai sebagai pergantian pemimpin, tetapi juga penerimaan tanggung jawab untuk menjaga tata adat dan warisan leluhur.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan wilujengan atau doa bersama yang diikuti Konco Haji serta sentana dan abdi dalem yang telah menunaikan ibadah haji maupun umrah.

Para Bupati Nayaka turut hadir mengenakan dodot sebagai bagian dari ketentuan busana adat. Kehadiran mereka melengkapi struktur adat dalam prosesi jumenengan.

Berbeda dengan seremoni modern, jalannya upacara tidak dipandu pembawa acara. Setiap tahapan dituntun gending yang dimainkan dalam rangkaian adat.

“Gending menjadi tuntunan utama yang memberikan tanda mengenai tahapan apa yang harus dilakukan setelah satu prosesi selesai,” jelas Gusti Moeng.

Keistimewaan lain muncul dengan dikeluarkannya kembali gamelan Kyai Arum dan Udan Asih dari Bangsal Pradangga. Menurut Gusti Moeng, kedua gamelan tersebut terakhir kali dikeluarkan pada masa pemerintahan Paku Buwana IX.

Kehadiran kembali dua perangkat gamelan bersejarah itu memperkuat nuansa kesinambungan tradisi dalam jumenengan Paku Buwana XIV.

Dengan seluruh rangkaian tersebut, Dalem Jumenengan pada 5 September 2026 menandai resmi naik takhtanya Paku Buwana XIV Hangabehi sebagai Raja Keraton Surakarta. Prosesi tersebut sekaligus menjadi penegasan kesinambungan tata adat, kesenian, dan amanah leluhur yang diwariskan lintas generasi.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut