Plafon SDN 2 Cepoko Ambruk, DPRD Sragen Soroti Data Sekolah Rusak
SRAGEN, iNewsSragen.id — Ambruknya plafon ruang guru SD Negeri 2 Cepoko, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, mendapat sorotan DPRD Sragen. Dewan meminta pemerintah daerah mengevaluasi pendataan dan pemetaan kondisi sarana prasarana sekolah agar penanganan kerusakan dapat dilakukan berdasarkan kondisi faktual di lapangan.
Ketua Komisi IV DPRD Sragen Sugiyamto mengatakan kejadian kerusakan bangunan sekolah perlu menjadi bahan evaluasi. Menurut dia, pendataan kondisi sekolah harus dilakukan secara berkala sehingga bangunan yang membutuhkan penanganan dapat masuk dalam skala prioritas.
"Kejadian bangunan sekolah rusak atau roboh ini sudah terjadi beberapa kali. Ini menandakan ada yang perlu dievaluasi total. Data sekolah yang diprioritaskan untuk perbaikan itu harus benar-benar valid, jadi pejabat atau tim teknis harus rajin turun langsung ke lapangan," ujar Sugiyamto.
Ia menilai kondisi lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan prioritas perbaikan. Dengan demikian, sekolah yang mengalami kerusakan dan berpotensi mengganggu keamanan siswa maupun tenaga pendidik dapat lebih cepat ditangani.
Soroti Keterbatasan Anggaran
Sugiyamto juga menyoroti keterbatasan anggaran perbaikan sarana pendidikan. Ia menyebut alokasi renovasi sekolah pada APBD Perubahan 2026 sekitar Rp4 miliar.
Menurutnya, jumlah tersebut masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan perbaikan sekolah yang tersebar di berbagai wilayah Sragen.
Di sisi lain, Sugiyamto menyebut terdapat rencana peningkatan alokasi anggaran perbaikan sekolah pada APBD 2027 hingga sekitar Rp17 miliar.
Namun, ia mengingatkan besarnya anggaran tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila data kondisi sekolah tidak akurat.
"Kalau bicara berapa kebutuhan idealnya, ya kita harus melihat dan mengecek data faktual di lapangan dulu. Jangan sampai sekolah yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dan membahayakan justru terlewat dari daftar perbaikan," katanya.
Menurut Sugiyamto, pemerintah daerah perlu memastikan data kerusakan sekolah terus diperbarui. Pendataan tersebut penting untuk menentukan sekolah yang masuk kategori prioritas berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganannya.
Sebelumnya, plafon ruang guru SDN 2 Cepoko ambruk pada Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Peristiwa terjadi saat jam istirahat dan material plafon mengenai dua guru.
Sebelum kejadian, sejumlah guru mengaku mendengar suara retakan dari arah atap sejak sekitar pukul 07.00 WIB. Mereka kemudian memindahkan sejumlah barang elektronik dan perabotan dari ruang guru.
Namun, sekitar pukul 09.15 WIB, plafon berukuran sekitar 8 x 7 meter mendadak ambruk ketika sejumlah guru kembali berada di ruangan tersebut.
Dua guru terdampak material plafon. Fitri dilaporkan mengalami syok hingga hampir pingsan, sedangkan Intan mengalami luka lecet ringan.
Kepala SDN 2 Cepoko Dwi Rahayu mengatakan bangunan sekolah tersebut sebelumnya telah mendapat rehabilitasi. Menurutnya, pembangunan terakhir dilakukan melalui bantuan Kementerian PUPR pada 2021.
"Sebelumnya, pernah direhab, terakhir pembangunan tahun 2021 dari PUPR Pusat," kata Dwi, Kamis (8/10/2026).
Kondisi plafon dan sejumlah bagian dinding yang retak selanjutnya mendapat pemeriksaan dari pemerintah daerah. Penyebab pasti kerusakan masih menunggu pemeriksaan teknis.
Pemkab Sragen juga menyatakan akan mengupayakan penanganan bangunan melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Sragen 2026. Rencana perbaikan mencakup penguatan struktur bangunan, termasuk bagian kuda-kuda tiga ruang dan struktur dinding.
Sorotan DPRD tersebut menjadi catatan agar penanganan sarana pendidikan tidak hanya bersifat reaktif setelah terjadi kerusakan, tetapi didasarkan pada pemetaan kondisi bangunan secara berkala dan skala prioritas yang jelas.
Editor: Joko Piroso