BANTUL, iNewsSragen.id – Bubur beras gurih berpadu sayur lodeh tempe menjadi menu khas berbuka puasa yang telah diwariskan turun-temurun oleh jamaah Masjid Sabiilurrosyaad, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tradisi ini terus lestari setiap bulan Ramadan dan diyakini telah berlangsung selama ratusan tahun.
Menjelang waktu berbuka, suasana serambi masjid tua di Desa Wijirejo, Kecamatan Pandak, tampak ramai. Sejumlah ibu-ibu dan remaja putri bergotong royong menyiapkan hidangan utama berupa bubur lodeh, menu wajib yang selalu disajikan bagi jamaah yang berbuka puasa bersama.
Bubur lodeh tersebut dibuat dari beras yang dimasak dengan santan kelapa hingga bertekstur lembut dan bercita rasa gurih. Sajian ini dilengkapi sayur lodeh berkuah santan berisi tempe, potongan telur ayam, krecek kulit sapi, serta mie lethek khas Bantul.
Menurut Chotifah, salah satu juru masak masjid, tradisi berbuka puasa bersama dengan bubur lodeh telah ada sejak awal berdirinya masjid. Ia menyebut, masjid ini didirikan oleh Panembahan Bodho, seorang kerabat Keraton Yogyakarta yang memilih hidup di luar lingkungan keraton dan berdakwah di tengah masyarakat.
“Tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bubur lodeh bukan sekadar makanan, tapi memiliki pesan dakwah agar Islam disampaikan dengan cara yang lembut dan menyejukkan,” ujar Chotifah.
Makna filosofis bubur lodeh menjadi bagian penting dari tradisi ini. Bubur dikenal sebagai makanan yang halus dan mudah dicerna, sehingga cocok disantap setelah seharian berpuasa. Dalam pemaknaan lokal, bubur juga dimaknai sebagai simbol kebaikan dan kelembutan, selaras dengan nilai dakwah Islam yang mengedepankan keramahan dan kasih sayang.
Hingga kini, tradisi berbuka puasa bersama di serambi masjid tetap dipertahankan. Antusiasme generasi muda pun terlihat, tidak hanya ikut menyantap hidangan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses persiapan.
Selama bulan Ramadan, takmir masjid menyiapkan sekitar 100 porsi bubur lodeh setiap hari. Jumlah tersebut biasanya meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat setiap Jumat, seiring bertambahnya jamaah yang berbuka puasa bersama.
Dengan mengandalkan gotong royong dan donasi warga untuk pengadaan bahan, tradisi bubur lodeh ini terus dijaga sebagai warisan budaya dan kearifan lokal umat Islam di wilayah Pandak, Bantul, sekaligus mempererat kebersamaan jamaah selama Ramadan.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
