Jual Tiga Ekor Sapi Demi Haji, Petani 103 Tahun dari Bantul Berangkat ke Tanah Suci

Trisna Purwoko
Mardijiyono Karto Sentono (103), petani asal Piyungan, Bantul, menunjukkan perlengkapan jelang keberangkatan haji. Foto:iNews/Trisna P

BANTUL, iNewsSragen.id — Perjuangan panjang seorang petani lanjut usia asal Kabupaten Bantul menuju Tanah Suci akhirnya terwujud. Mardijiyono Karto Sentono (103), warga Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, dijadwalkan berangkat menunaikan ibadah haji pada 2 Mei 2026 dan disebut sebagai calon jemaah haji tertua asal DIY-Jawa Tengah tahun ini.

Di usianya yang telah melampaui satu abad, Mardijiyono menyimpan kisah perjuangan penuh ketekunan. Bertahun-tahun ia menyisihkan hasil bertani demi mewujudkan cita-cita menunaikan rukun Islam kelima.

Dari hasil jerih payah sebagai petani, Mardijiyono menabung sedikit demi sedikit hingga terkumpul dana awal sekitar Rp10 juta. Dengan dukungan delapan anaknya, biaya pendaftaran haji kemudian terpenuhi dan ia tercatat mendaftar pada 2020 melalui kuota prioritas lansia.

Perjalanan menuju keberangkatan tidak selalu mudah. Di tengah penantian, sang istri yang selama ini mendukung penuh keinginan berhaji lebih dulu meninggal dunia. Namun wasiat dan dorongan almarhumah justru menguatkan tekad Mardijiyono untuk tetap berangkat.

Untuk melunasi biaya perjalanan haji, keluarga bahkan menjual ternak sapi milik Mardijiyono. Pengorbanan itu menjadi bagian dari ikhtiar panjang mewujudkan impian yang telah dipupuk puluhan tahun.

Meski pendengarannya mulai berkurang dan aktivitas sehari-hari dibantu alat penyangga berjalan, semangat Mardijiyono disebut tetap kuat. Ia bahkan rutin mengikuti berbagai persiapan menjelang keberangkatan.

“Bapak sangat bersemangat. Dari awal memang cita-citanya bisa berangkat haji,” ujar salah satu anggota keluarga.

Menjelang keberangkatan, keluarga besar telah menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan ibadah, pakaian, obat-obatan, hingga kursi roda untuk mendukung mobilitas selama di Tanah Suci.

Karena berangkat tanpa didampingi anggota keluarga, Mardijiyono juga akan mendapat pendampingan petugas haji untuk membantu pelaksanaan ibadah sesuai kondisi fisiknya.

Kisah Mardijiyono menjadi potret keteguhan seorang petani sederhana yang menjaga mimpi hingga usia senja. Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi fisik yang menua, semangatnya menunaikan ibadah haji justru menjadi inspirasi.

Editor : Joko Piroso

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network