Tutus menambahkan, seluruh kegiatan telah melalui proses sosialisasi kepada masyarakat sekitar serta dikoordinasikan dengan pihak terkait, termasuk pengawasan dari SKK Migas.
Dalam pelaksanaannya, Pertamina juga menerapkan standar keselamatan dan pengelolaan lingkungan secara ketat. Tim eksplorasi melakukan pemantauan gas hidrogen sulfida (H2S) di sekitar lokasi serta menyiagakan tim tanggap darurat untuk mengantisipasi potensi risiko.
Pihaknya memastikan bahwa fenomena api dan cahaya dari flare merupakan hal yang normal dan terkendali dalam operasi migas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak mendekati area operasi demi keselamatan bersama,” tegasnya.
Selain itu, Pertamina membuka jalur komunikasi dengan masyarakat melalui tokoh dan perwakilan warga setempat agar setiap perkembangan kegiatan dapat tersampaikan secara transparan.
Klarifikasi ini diharapkan dapat meredam kekhawatiran publik serta mencegah penyebaran informasi yang tidak akurat terkait aktivitas industri migas di wilayah tersebut.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
