BANTUL, iNewsSragen.id - Menjelang pelaksanaan Iduladha 1447 Hijriah, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan pemantauan ketersediaan sekaligus pemeriksaan kesehatan hewan kurban di sejumlah peternak dan pedagang sapi.
Salah satu lokasi yang dikunjungi berada di Dusun Jogonalan, Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Bantul. Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap menjelang Idul Adha untuk memastikan hewan kurban dalam kondisi sehat dan layak.
“Pemantauan ini kami lakukan untuk memastikan ketersediaan hewan kurban mencukupi serta bebas dari penyakit, sehingga aman saat pelaksanaan penyembelihan,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Dari hasil pengecekan di kandang milik salah satu peternak sekaligus pedagang, Ahmad Suwardi, diketahui bahwa seluruh stok sapi kurban sebanyak 51 ekor telah habis terjual.
Menurut Joko, sebagian besar sapi jantan yang dijual untuk kebutuhan kurban di Bantul didatangkan dari luar daerah, seperti Bali dan Madura. Hal ini karena pola peternakan di Bantul lebih banyak berfokus pada pembibitan dengan dominasi sapi betina.
Selain itu, tingginya kebutuhan pemotongan ternak untuk sektor kuliner di Bantul turut memengaruhi terbatasnya ketersediaan sapi jantan di wilayah tersebut.
Meski banyak sapi didatangkan dari luar daerah, DKPP memastikan seluruh hewan yang masuk telah melalui pemeriksaan kesehatan secara ketat sebelum diperdagangkan.
“Semua sapi yang masuk ke Bantul sudah melalui pemeriksaan kesehatan, sehingga aman untuk dijadikan hewan kurban,” tegasnya.
Pemantauan juga dilakukan di sejumlah kandang lain di wilayah Tirtonirmolo yang menyediakan puluhan ekor sapi kurban. Mayoritas sapi yang dijual berasal dari wilayah Rongkop, Kabupaten Gunungkidul.
Sementara itu, Ahmad Suwardi mengungkapkan bahwa permintaan sapi kurban pada Idul Adha tahun ini cenderung mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ekonomi serta keterbatasan pasokan sapi jantan menjadi faktor penyebab.
Ia menyebut, para peternak di sejumlah daerah masih berhati-hati akibat pengalaman wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) serta penyakit lato-lato pada ternak beberapa waktu lalu.
Keterbatasan pasokan tersebut berdampak pada kenaikan harga sapi kurban. Menurut Ahmad, harga sapi saat ini naik sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per ekor dibandingkan kondisi normal.
“Sekarang kisaran harga sekitar Rp25 juta sampai Rp26 juta per ekor, sebelumnya sekitar Rp24 juta,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, DKPP Bantul juga memberikan tanda pada kandang yang telah diperiksa serta menyerahkan bantuan obat cacing kepada pedagang untuk menjaga kesehatan ternak.
Langkah ini diharapkan dapat memastikan hewan kurban yang beredar di masyarakat dalam kondisi sehat, layak, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
