Ketua PWI Solo terpilih, Sri Hartanto mengatakan dalam orasinya bahwa pernyataan 'londo ireng' dinilai sebagai sebuah stigmasisasi, pelabelan merendahkan profesi jurnalis, mendelegitimisasi kerja pers, serta berpotensi memperburuk iklim kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia.
Pihaknya menuntut agar Prabowo melakukan permohonan maaf kepada jurnalis atas pernyataan 'londo ireng' tersebut.
"Kami meminta Pak Prabowo melakukan permohonan maaf secara terbuka untuk teman-teman, agar apa yang dikatakan Pak Prabowo itu tidak terus-terusan masif disampaikan kepada media," ujar Hartanto dalam orasinya, Selasa (28/7/2026).
"Kita bertugas di lapangan itu kita akan takut kalau kita memang dikatakan londo ireng," imbuhnya.
Menurut Hartanto, penyebutan 'londo ireng" merupakan sebuah stigma negatif yang dikhawatirkan akan membahayakan jurnalis dalam bekerja.
"Kalau pun memang beliau mengatakan ada wartawan sebagai londo ireng, ya itu jangan gebyah-uyah. Jangan semua wartawan dikatakan seperti itu. Kalau pun mereka mengatakan itu antek-antek atau londo ireng, itu bisalah kalau memang itu ada, proses saja secara hukum. Tapi saya yakin teman-teman itu tidak melakukannya," serunya.
Dalam orasinya, ia juga menegaskan bahwa aksi serupa akan kembali digelar apabila tidak ada permintaan maaf oleh Prabowo kepada jurnalis serta tidak ada penghentian pernyataan 'londo ireng'.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
