Masjid Tombo Ati Panen Apresiasi, Wayang Kulit Bimo Suci Jadi Media Dakwah Maulid Nabi

Nanang SN
Pagelaran wayang kulit di Masjid Tombo Ati Solo Baru dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW.Foto: iNews/ Nanang SN

SUKOHARJO,iNewsSragen.idPagelaran wayang kulit lakon Bimo Suci di Masjid Tombo Ati, Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, panen apresiasi karena memadukan syiar Islam dengan pelestarian budaya.

Pementasan semalam suntuk yang digelar Kamis 10/9/2026) malam hingga Jumat (11/9/2026) dini hari itu, menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriyah. Sejumlah tokoh dan pejabat daerah menilai wayang efektif menjadi media dakwah berbasis kearifan lokal.

Ketua Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Dr. Kusumo Putro, mengatakan pagelaran tersebut membuktikan seni tradisional masih memiliki daya tarik di tengah derasnya perkembangan teknologi modern.

"Pesan kehidupan dan keagamaan yang disisipkan melalui cerita wayang ternyata juga dapat diterima karena disampaikan melalui media budaya yang sudah akrab bagi masyarakat, khususnya Jawa," kata Kusumo saat menyaksikan pementasan.

Menurut dia, wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Pertunjukan tersebut juga menjadi ruang untuk menjaga keberlangsungan seni tradisional sekaligus menyampaikan nilai kehidupan dan keagamaan.

Masjid Tombo Ati untuk pertama kalinya menggelar wayang kulit semalam suntuk dalam momentum Maulid Nabi. Lakon Bimo Suci dipilih karena sarat pesan spiritual mengenai perjalanan manusia dalam menemukan jati diri dan memahami hubungan dengan Tuhan.

Pementasan menghadirkan dalang asal Karanganyar, Ki Anom Dwijo Kangko, S.Sn. Pertunjukan semakin meriah dengan kehadiran Andik TB dan Cak Gandul.

Kegiatan yang digagas pendiri Masjid Tombo Ati, Budi Santosa atau Budi Ngasinan, bersama para jamaah tersebut dihadiri pejabat perwakilan Gubernur Jateng dari Kesbangpol Pradana Agung Nugroho, anggota DPRD Jateng Sumarsono, Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, Dandim 0726/Sukoharjo Letkol Inf Reza Sahputra, Ketua DPRD Sukoharjo Nurjayanto, serta pendiri Masjid Wisanggeni Muhammad Hadi Purnomo atau Mbah Pur Wisanggeni.

Mewakili Gubernur, Pradana Agung Nugroho menilai wayang kulit memiliki posisi strategis sebagai media penyampaian nilai keagamaan sekaligus pelestarian kearifan lokal.

"Melalui pendekatan budaya yang kreatif dan relevan, kita dapat memperkenalkan nilai-nilai keagamaan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya Nusantara kepada generasi penerus," ujarnya.

Pradana menjelaskan lakon Bimo Suci mengandung pesan tentang pencarian jati diri, kebenaran sejati, kepatuhan seorang murid kepada guru, hingga penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Nilai tersebut dinilai sejalan dengan semangat Maulid Nabi, terutama ajakan untuk menyucikan hati dan memperbaiki akhlak.

Apresiasi serupa disampaikan Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo. Menurutnya, dakwah dapat dikemas melalui pendekatan budaya agar lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Dakwah tidak dilakukan dengan metode yang monoton, melainkan disesuaikan dengan adat dan kebiasaan masyarakat. Wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan," kata Sapto.

Dia berharap keberadaan Masjid Tombo Ati di kawasan Solo Baru tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga ikut menjaga ketenteraman serta memperkuat kehidupan sosial masyarakat sekitar.

Anggota Komisi A DPRD Jateng Sumarsono menambahkan, budaya memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan keluhuran budi pekerti.

Menurutnya, kekuatan wayang terletak pada perpaduan berbagai unsur seni sekaligus pesan filosofis yang terkandung dalam setiap lakon.

"Dalam setiap pertunjukan wayang pasti memberikan nilai positif yang sarat dengan filosofi, apalagi dalam pagelaran wayang kulit kolaborasi banyak seni, mulai dari seni musik, lakon, ukir, tatah sungging dan lainnya," ujarnya.

Lakon Bimo Suci mengisahkan perjalanan spiritual Raden Werkudara atau Bima setelah mendapat perintah gurunya, Resi Durna, mencari Tirta Perwitasari.

Dalam perjalanan, Bima menghadapi berbagai rintangan, termasuk pertarungan dengan raksasa di Hutan Tikrabara hingga menyelami samudra.

Di dasar samudra, Bima bertemu Dewa Ruci. Pertemuan tersebut menjadi simbol perjalanan spiritual manusia dalam memahami hakikat diri dan hubungannya dengan Sang Pencipta.

Pesan tentang kepatuhan, kejujuran, kerendahan hati dan penyucian jiwa dalam Bimo Suci kemudian dikaitkan dengan semangat Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni meneladani akhlak Rasulullah.

Pagelaran di Masjid Tombo Ati pun tidak berhenti sebagai tontonan budaya. Pementasan tersebut menjadi upaya menghidupkan kembali seni tradisional sekaligus menjadikan budaya Jawa sebagai jembatan penyampaian pesan keagamaan kepada masyarakat.

Editor : Joko Piroso

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network