Rumah Bambu Ambruk di Gondang Sragen, Lansia 90 Tahun Tewas Tertimpa

Joko Piroso
Petugas dan warga mengevakuasi Mbah Sutiyem (90) yang rumahnya ambruk di Dukuh Dimoro, Desa Kaliwedi, Gondang, Sragen, Senin (14/9/2026).Foto:iNews/ Joko P

SRAGEN, iNewsSragen.idMbah Sutiyem (90), lansia di Gondang, Sragen, meninggal setelah rumah bambu yang ditempatinya ambruk pada Senin (14/9/2026) siang.

Kepala Desa Kaliwedi, Daryono, mengatakan rumah tersebut memiliki konstruksi utama bambu dan kayu. Berdasarkan kondisi bangunan, rumah diduga sudah mengalami pelapukan sehingga akhirnya ambruk.

“Mbah Sutiyem ini umurnya sudah 90 tahun, warga RT 17 Dukuh Dimoro. Rumahnya memang konstruksi bambu dan posisinya magersari di lahan milik warga setempat,” ujar Daryono saat dikonfirmasi, Senin (14/9/2026).

Menurut Daryono, kondisi struktur kayu dan bambu rumah tersebut sudah cukup rapuh. Selama ini Mbah Sutiyem tetap tinggal di rumah tersebut dan masih menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Daryono menyebut Mbah Sutiyem selama ini tinggal seorang diri. Pihak desa, warga, dan keluarga disebut telah beberapa kali mengajak korban untuk tinggal bersama anak maupun cucunya.

Namun, Mbah Sutiyem memilih tetap tinggal di rumahnya.

“Sudah pernah diajak tinggal di tempat anak maupun cucunya, tetapi beliau tidak mau dan memilih tetap tinggal di rumah itu,” kata Daryono.

Rumah Dirawat Secara Swadaya

Karena korban tetap memilih tinggal di rumah tersebut, warga sekitar bersama pengurus RT selama ini berupaya membantu melakukan perawatan dan perbaikan secara swadaya.

Daryono mengatakan kondisi sosial ekonomi keluarga Mbah Sutiyem sebenarnya cukup mendapat perhatian. Sejumlah anak dan cucunya tinggal di luar daerah, termasuk ada yang bekerja di luar negeri.

Untuk kebutuhan sosial, Mbah Sutiyem juga tercatat sebagai penerima bantuan pemerintah. Menurut Daryono, bantuan tersebut antara lain berupa BLT serta bantuan pangan.

“Kalau untuk bantuan sosial seperti BLT dan bantuan beras atau pangan semua dapat secara rutin. Yang mengurusi administrasi dari RT,” ujarnya.

Kebutuhan sehari-hari korban, lanjut Daryono, juga mendapat dukungan dari keluarga dan cucu-cucunya.

Terkendala Status Lahan

Terkait program perbaikan rumah tidak layak huni atau RTLH, Daryono menjelaskan rumah Mbah Sutiyem selama ini tidak dapat diajukan melalui program bedah rumah pemerintah karena status tanahnya.

Rumah tersebut berdiri secara magersari atau menumpang di atas lahan milik warga lain. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam pengajuan program perbaikan rumah melalui skema pemerintah.

Selama ini, perbaikan dan perawatan rumah lebih banyak mengandalkan gotong royong warga sekitar.

Setelah rumah ambruk, Pemerintah Desa Kaliwedi bersama warga langsung bergerak memberikan pertolongan dan menangani lokasi kejadian.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi perhatian bagi pemerintah desa dan warga mengenai kondisi hunian lansia, terutama bangunan yang sudah berusia tua dan memiliki struktur yang berisiko.

Pihak desa selanjutnya melakukan penanganan terhadap dampak kejadian serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk kebutuhan korban dan keluarganya.

Editor : Joko Piroso

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network