Kusumo menyebut Pemkot Surakarta sebelumnya menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membantu penataan dan penyelesaian persoalan aset Sriwedari.
“Dan tentu kami sangat mendukung upaya itu,” ujarnya.
Kekhawatiran FOKSRI muncul setelah adanya informasi mengenai material kayu yang telah disiapkan sejumlah orang di salah satu titik kawasan Sriwedari yang disebut akan digunakan untuk mendirikan posko. Rencana itu dikaitkan dengan kelompok yang mengaku sebagai pendukung ahli waris lahan Sriwedari.
FOKSRI menilai pendirian posko berpotensi memperkeruh persoalan Sriwedari yang hingga kini masih menjadi sengketa.
Koordinator Panggung Seni dan Budaya, Sigit Pamungkas, menegaskan pentas tersebut bukan kegiatan spontan. Panggung seni merupakan agenda tahunan yang telah direncanakan jauh hari.
Pentas berlangsung setiap hari selama sepekan, pukul 15.00–18.00 WIB. Sejumlah kesenian lokal, seperti musik keroncong dan tari-tarian, ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
“Panggung seni dan budaya ini sudah menjadi agenda tahunan, jadi sudah jauh-jauh hari kami rencanakan,” kata Sigit.
Menurut dia, jadwal pertunjukan telah disusun agar tidak mengganggu agenda pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
