Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan, keberadaan festival diharapkan ikut memperkuat ekosistem musik tradisi secara lebih luas. “FMTI tidak semata-mata ditempatkan sebagai panggung pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem musik tradisi secara menyeluruh,” katanya.
Karena itu, setiap daerah memiliki pendekatan yang berbeda. Potensi kesenian yang sudah hidup di masyarakat menjadi titik awal pengembangan.
Komite FMTI Suban Sipakatau mengatakan, konsep tersebut membuat pembangunan ekosistem musik tradisi dilakukan dari kekuatan lokal masing-masing daerah.
“Jadi sebenarnya kita mau membangun ekosistem daerah. Misalnya Wonosobo, kita bangun dari potensi yang ada di Wonosobo,” kata Suban.
Pendekatan lokal itu kemudian bertemu dengan gagasan kreatif FMTI. Direktur Kreatif FMTI Joko Suranto atau Joko S. Gombloh menjelaskan, festival menggunakan konsep Root vs. Route (Akar vs. Rute).
Akar menjadi simbol pijakan tradisi dan identitas budaya. Sementara rute menggambarkan perjalanan musik tradisi ketika bertemu dengan berbagai kemungkinan baru.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
