Ia menilai persoalan organisasi tidak semestinya dipaksakan melalui tekanan massa.
“Teriakan dengan mengandalkan badan hukum dan surat dari PB IPSI tidak akan bisa mengguncangkan dan merobohkan jiwa persaudaraan yang dibangun dari sumpah bersama,” tuturnya.
Widjang berharap peristiwa di Madiun menjadi evaluasi bersama untuk menjaga ketertiban sekaligus merawat persaudaraan.
Di akhir pernyataannya, ia kembali menekankan bahwa keberanian seorang pendekar, menurut pandangannya, bukan ditunjukkan melalui jumlah massa atau keberanian berhadapan dengan aparat, melainkan melalui sikap terbuka dan kemampuan menyelesaikan persoalan secara bermartabat.
“Seorang pendekar sejati akan mengetuk dan mengucap salam apabila masuk ke dalam rumah siapapun. Bukan dengan tuntutan, bukan dengan ancaman, bukan dengan gugatan, apalagi hanya dengan berteriak-teriak tanpa ada yang memimpin,” pungkasnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
