Nasrudin juga menanggapi pernyataan yang menggunakan metafora Madiun sebagai "bapak" dan keinginan untuk kembali ke Madiun.
Menurut dia, jika Madiun dipandang sebagai rumah bersama, maka kepulangan seharusnya membawa kedamaian, bukan membuka kembali persoalan lama.
"Kalau Madiun dianggap sebagai bapak, maka seorang anak yang pulang seharusnya membawa kedamaian, bukan kembali membawa pertengkaran yang selama bertahun-tahun belum selesai," ujarnya.
Ia mengingatkan agar Madiun tidak dijadikan tempat untuk mengulang konflik internal organisasi yang belum selesai.
"Jangan datang kembali ke Madiun hanya untuk membawa pertarungan lama," tegas Nasrudin.
Polemik Parluh PSHT 2026 sendiri masih berkaitan dengan dinamika internal organisasi. Pemerintah dan aparat menyatakan keputusan untuk tidak menggelar kegiatan tersebut di Madiun didasarkan pada pertimbangan keamanan, sementara pihak PSHT kubu M. Taufiq menyampaikan keberatan dan menyatakan akan menempuh jalur hukum.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
