Sementara itu, Ahmad Luthfi menyebut Jawa Tengah memiliki posisi penting dalam produksi jagung nasional. Pada 2025, produksi jagung Jateng mencapai sekitar 3,7 juta ton, sedangkan hingga September 2026 telah mencapai 2,68 juta ton.
“Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung,” kata Luthfi.
Berdasarkan Angka Tetap BPS 2025, produksi jagung Jateng mencapai 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28 persen. Angka tersebut setara sekitar 17,02 persen dari produksi jagung nasional.
Menurut Luthfi, menjaga produksi pangan tidak cukup hanya dengan memperluas areal tanam. Petani juga membutuhkan kepastian lahan, air, pupuk, benih hingga alat dan mesin pertanian.
Ketersediaan air menjadi perhatian khusus karena produktivitas lahan sangat bergantung pada pasokan air, terutama ketika musim berubah.
“Masyarakat petani itu tidak akan bertanya tersier, sekunder, primer punya siapa. Prinsipnya airnya harus sampai lahan pertanian,” tegasnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
