Di sisi lain, Sugiyamto menyebut terdapat rencana peningkatan alokasi anggaran perbaikan sekolah pada APBD 2027 hingga sekitar Rp17 miliar.
Namun, ia mengingatkan besarnya anggaran tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila data kondisi sekolah tidak akurat.
"Kalau bicara berapa kebutuhan idealnya, ya kita harus melihat dan mengecek data faktual di lapangan dulu. Jangan sampai sekolah yang kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan dan membahayakan justru terlewat dari daftar perbaikan," katanya.
Menurut Sugiyamto, pemerintah daerah perlu memastikan data kerusakan sekolah terus diperbarui. Pendataan tersebut penting untuk menentukan sekolah yang masuk kategori prioritas berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganannya.
Sebelumnya, plafon ruang guru SDN 2 Cepoko ambruk pada Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Peristiwa terjadi saat jam istirahat dan material plafon mengenai dua guru.
Sebelum kejadian, sejumlah guru mengaku mendengar suara retakan dari arah atap sejak sekitar pukul 07.00 WIB. Mereka kemudian memindahkan sejumlah barang elektronik dan perabotan dari ruang guru.
Namun, sekitar pukul 09.15 WIB, plafon berukuran sekitar 8 x 7 meter mendadak ambruk ketika sejumlah guru kembali berada di ruangan tersebut.
Dua guru terdampak material plafon. Fitri dilaporkan mengalami syok hingga hampir pingsan, sedangkan Intan mengalami luka lecet ringan.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
