get app
inews
Aa Text
Read Next : PP Baru Berlaku 1 Agustus, Tarif Naturalisasi WNA Naik 50 Persen, Ini Analisis Pakar UMY

UMY Tolak Bangun SPPG di Kampus, Pilih Kajian Akademik dan Magang Mahasiswa

Jum'at, 15 Mei 2026 | 21:52 WIB
header img
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UMY, Dyah Mutiarin.Foto:Istimewa

YOGYAKARTA, iNewsSragen.idUniversitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyatakan tidak memilih model pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di lingkungan kampus sebagai bentuk keterlibatan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebagai alternatif, kampus menawarkan model partisipasi berbasis akademik yang dinilai lebih sesuai dengan fungsi perguruan tinggi.

Sikap tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UMY, Dyah Mutiarin, yang mengusulkan dua skema keterlibatan kepada pemerintah, yakni kajian ilmiah oleh dosen terhadap SPPG yang telah beroperasi serta program magang mahasiswa secara langsung di lapangan.

Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dalam program MBG tidak selalu harus diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dapur atau SPPG di dalam area kampus.

"Kalau tujuan membangun SPPG adalah menjadi laboratorium hidup, itu tidak harus berada di dalam kampus. Kampus memiliki keterbatasan dari sisi lahan, anggaran, maupun sumber daya manusia. Di sisi lain, SPPG yang sudah berjalan di luar kampus juga cukup banyak," ujarnya saat diwawancarai, Kamis (14/5/2026).

Dyah menjelaskan peran pertama yang dapat dilakukan perguruan tinggi adalah mendorong dosen dari berbagai bidang ilmu untuk melakukan kajian akademik terhadap operasional SPPG yang telah berjalan.

Kajian tersebut dapat mencakup evaluasi komposisi gizi, pengawasan keamanan pangan, pencegahan potensi keracunan makanan, efisiensi anggaran, hingga ketepatan sasaran penerima manfaat.

"Perguruan tinggi dapat memberikan masukan terkait komposisi gizi, langkah pencegahan keracunan makanan, maupun evaluasi dari sisi efisiensi anggaran," jelasnya.

Selain itu, UMY juga mengusulkan mahasiswa dari program studi yang relevan mengikuti program magang langsung di lokasi SPPG. Menurutnya, skema tersebut lebih efektif karena mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan tanpa kampus harus menanggung beban pembangunan dan operasional fasilitas baru.

Guru Besar Program Studi Ilmu Pemerintahan UMY tersebut juga menilai Muhammadiyah memiliki keunggulan dari sisi jaringan kelembagaan. Melalui sekolah dan amal usaha pendidikan yang dimiliki, mulai tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah, konektivitas dengan sasaran program MBG dinilai telah tersedia.

Menurutnya, jaringan pendidikan Muhammadiyah secara praktik telah terhubung dengan kebutuhan program pemenuhan gizi sehingga kolaborasi dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Dengan kondisi tersebut, UMY menilai kontribusi terhadap program prioritas nasional tetap dapat dilakukan tanpa harus membangun SPPG baru di dalam kampus.

Model kolaborasi berbasis riset, pendampingan, dan penguatan sumber daya manusia dinilai menjadi jalan tengah agar perguruan tinggi tetap berperan aktif tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai institusi pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut