Festival Nyunggak Semi II Blora Angkat Jamu Tradisional, Warisan Budaya Penggerak Ekonomi
BLORA , iNewsSragen.id — Upaya menjaga keberlangsungan jamu tradisional sebagai warisan budaya terus dilakukan masyarakat Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Melalui Festival Budaya Nyunggak Semi II, warga Desa Geneng, Kecamatan Jepon, mengangkat tradisi jamu sebagai bagian dari identitas budaya lokal yang diwariskan lintas generasi.
Festival yang mengusung tema pelestarian jamu tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan kembali tradisi meracik tanaman herbal yang telah lama hidup di tengah warga Desa Geneng.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program aktivasi ruang publik desa berbasis penguatan sumber daya lokal, dengan tujuan mendorong pelestarian budaya sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat.
Ketua Panitia Festival Nyunggak Semi II, Taufiqur Riza, mengatakan pemilihan tema jamu tidak lepas dari sejarah panjang tradisi tersebut di Desa Geneng.
Menurutnya, kebiasaan meracik dan menjajakan jamu telah berkembang sejak sekitar era 1970-an dan terus diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.
“Jamu bukan hanya minuman tradisional, tetapi juga bagian dari perjalanan budaya masyarakat Desa Geneng yang perlu terus dirawat,” ujarnya.
Festival tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Jepon serta Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Blora.
Dalam rangkaian kegiatan, peserta diajak mengenal proses pembuatan jamu tradisional secara langsung. Mulai dari mengenali berbagai jenis rempah yang digunakan, proses pengolahan bahan, hingga cara meracik jamu dengan peralatan tradisional.
Warga juga berkesempatan mencoba menumbuk bahan-bahan jamu serta mencicipi hasil racikan yang telah siap disajikan.
Kepala Desa Geneng, Jati Halim, mengatakan pemerintah desa berkomitmen mendukung kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan pelestarian budaya dan pengembangan potensi lokal.
Menurutnya, tradisi jamu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi desa, terutama melalui pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Potensi masyarakat yang memiliki keterampilan meracik jamu perlu diberi ruang agar tradisi ini tidak hanya bertahan sebagai budaya, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi,” katanya.
Selain mendorong pengembangan produk jamu, pemerintah desa juga telah menyiapkan pasar desa sebagai wadah pemasaran hasil usaha warga.
Dengan adanya fasilitas tersebut, para perajin jamu diharapkan tidak lagi hanya mengandalkan penjualan keliling, tetapi memiliki ruang pemasaran yang lebih tetap dan mudah dijangkau masyarakat.
Melalui Festival Budaya Nyunggak Semi II, warga Desa Geneng berharap tradisi jamu tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus berkembang sebagai salah satu kekuatan ekonomi berbasis budaya lokal.
Editor : Joko Piroso