24 Muralis Nasional Adu Kreativitas di Sragen, Angkat Sejarah Sangiran hingga Budaya Sukowati
Ia menilai penyelenggaraan lomba tahun ini mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, baik dari sisi fasilitas maupun penyediaan material. Para muralis juga mulai mengombinasikan berbagai teknik dan bahan, seperti warna neon, glitter, hingga media campuran (mixed media) untuk menghasilkan efek visual yang lebih menarik.
Selain diikuti muralis senior, kompetisi ini juga menjadi panggung bagi generasi muda. Salah satunya Komaria Arimurti (19), mahasiswa Program Studi Seni Rupa Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta asal Kecamatan Tangen, Sragen.
Muralis yang akrab disapa Maya tersebut menjadi peserta termuda dalam ajang ini. Meski baru pertama kali mengikuti lomba mural, ia tampil percaya diri bersaing dengan para seniman berpengalaman.
Dalam karyanya, Maya mengangkat tema kearifan lokal Sragen dengan memadukan tradisi mitoni, gejog lesung, dan tayub, serta sejumlah ikon daerah seperti Museum Sangiran, Gunung Kemukus, dan Pemandian Bayanan.
"Ini pertama kali saya mengikuti lomba mural. Sebelumnya lebih sering mengikuti lomba melukis. Justru dengan banyaknya muralis senior, saya semakin tertantang untuk memberikan karya terbaik," ujarnya.
Editor : Joko Piroso