Aksi Massa di CFD Sentil Pemkot Solo, Ketua FBM: Kota Budaya Tapi Seniman Tak Dihargai
Dalam keterangannya, Kusumo mengungkap keprihatinannya atas nasib para seniman lokal yang terlunta-lunta. Banyak sanggar tari tradisional gulung tikar karena tak kuat bertahan. Sementara itu, para musisi dan penggiat seni terpaksa tampil ngamen di emperan toko, pelataran kelurahan, hingga pinggir sungai dengan imbalan yang tidak layak.
Ia juga menyentil banyaknya lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang terpaksa berpindah profesi di luar bidang keilmuannya karena ketiadaan ruang berkarya.
"Miris sekali, lulusan sarjana seni di Solo ada yang akhirnya berjualan cimol, martabak, hingga jadi pramuniaga karena tidak ada wadah. Pemerintah Kota Solo seakan hanya memanfaatkan seniman saat ada kepentingan saja, setelah itu ditinggalkan tanpa ada dana stimulan atau perhatian berkala," kritik Kusumo tajam.
Ia juga menepis alasan keterbatasan anggaran atau lahan dari Pemkot Solo. Ia membandingkan anggaran revitalisasi cagar budaya yang menelan puluhan hingga ratusan miliar rupiah, sementara ruang ekspresi bagi kreator seni justru tidak diperhatikan
Kusumo menyebut banyaknya lahan atau lapangan olahraga di tingkat kelurahan di Kota Solo yang tidak terfungsikan dengan optimal dan sebenarnya bisa dikonversi menjadi fasilitas kesenian.
"Kota ini punya puluhan lapangan bola yang mangkrak, seperti Lapangan Sumber, Jegon Pajang. Ambil satu saja untuk dibangun gedung kesenian, tentu tidak akan mengganggu. Negara tidak boleh berhitung soal anggaran untuk urusan pelestarian budaya," ujarnya.
Editor : Joko Piroso