PG Mojo Sragen Bantah Over Capacity, Akui Emisi Debu Meningkat dan Minta Maaf ke Warga
Kondisi tersebut mendorong PG Mojo meningkatkan beban kerja boiler dari sekitar 60 ton per jam menjadi 70–75 ton per jam. Kapasitas giling pun naik dari sekitar 2.400–2.800 ton tebu per hari menjadi sekitar 3.000–3.200 ton per hari.
Meski demikian, Edi menegaskan peningkatan tersebut belum dapat dikategorikan sebagai over capacity. Menurutnya, kapasitas desain boiler mencapai 80 ton per jam sehingga operasional saat ini masih berada dalam batas aman secara teknis.
"Kami bukan beroperasi melebihi kapasitas desain alat. Namun kami mengakui dampak emisi yang dirasakan masyarakat meningkat dan untuk itu kami menyampaikan permohonan maaf kepada warga yang terdampak," katanya.
Sebagai langkah penanganan, PG Mojo telah melakukan penyetelan ulang (tuning) dan re-setting sistem Electrostatic Precipitator (ESP) dengan melibatkan tenaga ahli. Perusahaan juga membuka jalur komunikasi dengan masyarakat melalui pemerintah kelurahan, RT, dan RW agar setiap keluhan dapat segera ditindaklanjuti.
Untuk solusi jangka panjang, manajemen berencana mengusulkan penambahan komponen penyaring debu pada ESP dari dua field menjadi tiga field. Usulan tersebut akan diajukan kepada kantor pusat sebagai bagian dari peningkatan sistem pengendalian emisi pada musim giling mendatang.
Terkait wacana penurunan kapasitas giling untuk mengurangi emisi, Edi mengatakan pihaknya masih menunggu rekomendasi resmi dari Pemerintah Kabupaten dan DPRD Sragen sebagai bahan pertimbangan sebelum disampaikan kepada kantor pusat serta mitra petani tebu.
Editor : Joko Piroso