PB XIV Hangabehi Pimpin Wilujengan Sekaten, LDA Keraton Surakarta Luruskan Makna Filosofis Alun-Alun
Gusti Moeng menegaskan bahwa sepanjang sejarah ratusan tahun sejak Keraton Surakarta berdiri, pusat perayaan Sekaten hanya digelar di Alun-Alun Utara.
"Secara filosofis dan historis, sejak Keraton Surakarta ini berdiri ratusan tahun lalu, keramaian Sekaten itu ya di Alun-Alun Utara. Sementara Alun-Alun Kidul itu secara filosofis 'awang-uwung' (kosong)," ujar Gusti Moeng.
Ia mengungkapkan bahwa kawasan Alun-Alun Selatan sebenarnya merupakan ruang terbuka yang hening. Dibukanya Alun-Alun Selatan untuk pedagang pada masa lalu berawal dari pertimbangan kebutuhan internal keraton (ngupaya redana/ mencari dana) yang kemudian berlanjut hingga saat ini.
Namun secara aturan adat (paugeran), hal tersebut tidak mengubah marwah Alun-Alun Utara sebagai satu-satunya arena Sekaten yang sah.
Lebih lanjut, Gusti Moeng menggarisbawahi perbedaan mendasar antara ritual adat Sekaten dan pasar malam komersial biasa. Menurutnya, perayaan Sekaten yang autentik harus mencakup unsur sakral dan ritual budaya keraton.
"Ada prosesi adat sakral melibatkan Grebeg, prosesi miyos (keluarnya) Gamelan Sekaten (Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) ke Masjid Agung, hingga perayaan puncak Maulid Nabi," terangnya.
Editor: Joko Piroso