Kemarau Panjang di Sukoharjo, BPBD Droping 1,73 Juta Liter Air untuk 3.910 Warga
SUKOHARJO,iNewsSragen.id — Kemarau panjang memicu krisis air bersih di Kabupaten Sukoharjo. BPBD telah mendroping 1,739 juta liter air lewat 311 truk tangki untuk 3.910 warga di 12 desa.
Krisis air bersih terus menekan warga di tiga kecamatan. Hingga 2 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 1.193 kepala keluarga (KK) atau 3.910 jiwa terdampak kekeringan.
Untuk menjaga kebutuhan dasar warga, BPBD bersama sejumlah pihak telah mengirim 311 armada truk tangki dengan total distribusi mencapai 1.739.500 liter air bersih. Penyaluran dilakukan sejak awal Juli dan masih berlangsung secara berkala.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan distribusi akan terus dilakukan selama wilayah terdampak masih membutuhkan pasokan air.
“Berdasarkan data pemutakhiran BPBD Sukoharjo per 2 September 2026, Kecamatan Bulu dan Tawangsari menjadi kawasan paling terdampak dengan volume bantuan air bersih terbesar,” kata Ariyanto, Kamis (3/9/2026).
Di Kecamatan Bulu, BPBD telah menyalurkan 119 tangki atau sekitar 698.000 liter air ke empat desa.
Desa Kunden menjadi penerima terbesar dengan 83 tangki atau 478.000 liter bagi 218 KK atau 800 jiwa. Desa Ngasinan menerima 18 tangki atau 116.000 liter untuk 132 KK atau 536 jiwa.
Selanjutnya Desa Kedungsono mendapat 10 tangki atau 68.000 liter bagi 43 KK atau 130 jiwa. Desa Karangasem memperoleh lima tangki dengan total 36.000 liter.
Sementara di Kecamatan Tawangsari, distribusi mencapai 109 tangki atau sekitar 577.000 liter. Desa Kedungjambal menjadi titik dengan kebutuhan paling besar.
Sebanyak 104 tangki atau 554.000 liter air disalurkan ke Desa Kedungjambal untuk 372 KK atau 1.082 jiwa. Desa Pundungrejo menerima empat tangki atau 20.000 liter bagi 40 KK atau 163 jiwa.
BPBD juga mengirim satu tangki berkapasitas 3.000 liter ke SMPN 3 Tawangsari untuk mendukung kebutuhan air di lingkungan sekolah.
Di Kecamatan Weru, sebanyak 83 tangki atau sekitar 464.500 liter air bersih telah didistribusikan ke sejumlah permukiman dan fasilitas pendidikan.
Desa Weru menerima pasokan terbesar, yakni 62 tangki atau 335.000 liter bagi 158 KK atau 459 jiwa. Desa Karangmojo mendapat 10 tangki atau 54.000 liter untuk 80 KK atau 240 jiwa serta SMPN 1 Weru.
Distribusi berikutnya menyasar Desa Karangwuni sebanyak enam tangki atau 30.000 liter untuk 60 KK atau 182 jiwa dan Desa Tawang sebanyak lima tangki atau 31.500 liter bagi 60 KK atau 195 jiwa.
Pasokan juga dikirim ke fasilitas pendidikan di Desa Ngreco. SDN 1 Ngreco dan SDN 2 Ngreco masing-masing memperoleh satu tangki, dengan total bantuan 5.000 liter.
Adapun Desa Jatingarang sebelumnya membutuhkan satu tangki atau 4.000 liter. Kondisi di wilayah tersebut kemudian dinyatakan teratasi setelah proyek pipanisasi selesai.
Ariyanto menyebut penanganan kekeringan dilakukan dengan menggabungkan anggaran APBD dan dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan serta komunitas.
Menurutnya, kontribusi CSR semakin besar dalam beberapa pekan terakhir, khususnya untuk memenuhi kebutuhan air di titik rawan kekeringan dan fasilitas publik.
“Penyaluran air bersih yang berlangsung sejak awal Juli 2026 ini memadukan kekuatan dana APBD dan kolaborasi CSR,” ujarnya.
BPBD memastikan armada tangki tetap dimobilisasi selama masa tanggap darurat kekeringan belum berakhir. Pemkab Sukoharjo juga mengimbau masyarakat menghemat air bersih agar pasokan bantuan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Dengan 3.910 jiwa terdampak dan 1,739 juta liter air telah didroping, distribusi air bersih masih menjadi langkah utama pemerintah untuk menjaga warga Sukoharjo bertahan menghadapi kemarau panjang.
Editor: Joko Piroso