Anang Sastro Ingatkan Nilai Budi Pekerti Luhur di Tengah Dinamika PSHT
MADIUN, iNewsSragen.id – Dinamika internal Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dalam lebih dari satu dekade terakhir mendapat perhatian KRA Anang Sastro. Ia menilai komunikasi, koordinasi, dan silaturahmi antarpihak perlu diperkuat untuk menjaga persaudaraan.
Anang Sastro yang dikenal sebagai salah satu perintis kehumasan dan penggiat media SH Terate Pusat Madiun mengatakan komunikasi dan koordinasi menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai persoalan yang berkembang di lingkungan organisasi.
Menurutnya, koordinasi yang baik diperlukan agar setiap agenda organisasi dapat berjalan tertib dan tidak memunculkan persoalan baru.
“Koordinasi antar pihak sangat penting dan harus menjadi yang utama. Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik, apa yang kita harapkan bersama dapat terwujud,” ujar Anang Sastro, Sabtu (26/9/2026).
Soroti bentrokan di tengah dinamika PSHT
Anang juga menyoroti sejumlah kerusuhan atau bentrokan yang terjadi belakangan ini. Menurut dia, peristiwa tersebut berpotensi memengaruhi citra organisasi apabila melibatkan orang yang mengatasnamakan atau berada di lingkungan PSHT.
Ia secara khusus berharap para sesepuh dan tokoh yang menjadi panutan dapat mengambil peran dalam menjaga suasana tetap kondusif.
“Kerusuhan atau bentrokan yang terjadi belakangan ini hanya mencoreng nama baik organisasi. Apalagi kalau yang terlibat adalah oknum sesepuh. Seharusnya mereka menjadi teladan dalam menjaga suasana tetap sejuk dan mengedepankan penyelesaian melalui komunikasi,” katanya.
Ia menilai kekerasan maupun benturan di lapangan tidak sejalan dengan nilai yang selama ini diajarkan dalam SH Terate, yakni membentuk warga yang memiliki budi pekerti luhur.
Karena itu, Anang mengingatkan pentingnya kembali menjadikan nilai persaudaraan dan budi pekerti luhur sebagai pegangan dalam menghadapi perbedaan.
Ingatkan pesan Tarmadji Boedi Harsono
Anang kemudian mengutip pesan almarhum Kangmas Tarmadji Boedi Harsono yang menurutnya masih relevan dengan kondisi organisasi saat ini.
“Pesan Kangmas almarhum Tarmadji Boedi Harsono sangat jelas, sebagai warga SH Terate harus berbudi pekerti luhur. ‘Ojo seneng gawe susah ing liyan, apa alane gawe seneng ing liyan’. Jangan senang membuat kesusahan bagi orang lain, tidak ada salahnya membuat orang lain senang,” tuturnya.
Menurut Anang, pesan tersebut semestinya tidak hanya dipahami sebagai ajaran, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan organisasi, termasuk oleh mereka yang memiliki posisi sebagai sesepuh maupun tokoh yang menjadi panutan.
“Kalau kita benar-benar memahami dan menjalankan ajaran budi pekerti luhur, perbedaan tidak harus diselesaikan dengan benturan. Justru yang dituakan harus mampu memberikan contoh, menenangkan suasana dan menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Anang berharap seluruh pihak melakukan introspeksi dan kembali mengutamakan persaudaraan dalam menyikapi berbagai persoalan internal.
Menurutnya, menjaga nama baik organisasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pengurus, tetapi juga seluruh warga yang berada di dalamnya.
“Jangan sampai persoalan internal justru membuat masyarakat melihat organisasi dengan citra yang tidak baik. Mari kembali pada jati diri SH Terate, menjaga persaudaraan, mengedepankan budi pekerti luhur dan menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin,” pungkasnya.
Editor: Joko Piroso