Menembus Tiga Kota dalam Sehari, Menikmati Kemudahan Ekosistem Kereta Api
YOGYAKARTA, iNewsSragen.id – Menjelajahi tiga kota, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung, dalam satu hari bukan lagi sekadar rencana perjalanan. Integrasi kereta api, LRT, kereta cepat Whoosh, dan KA Feeder memungkinkan perjalanan lintas kota berlangsung lebih praktis dan efisien.
Pengalaman tersebut dirasakan dalam perjalanan one day trip yang dimulai dari Stasiun Yogyakarta pada malam hari. Kereta Api (KA) Bima berangkat pukul 23.05 WIB dan tiba di Stasiun Gambir, Jakarta, pukul 05.45 WIB.
Setelah perjalanan malam, penumpang dapat memanfaatkan fasilitas Shower & Locker di lantai 1 Stasiun Gambir untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak.
Perjalanan dilanjutkan pukul 07.40 WIB menggunakan taksi online menuju Stasiun LRT Jabodebek Dukuh Atas. Dari sana, perjalanan menuju Stasiun Halim ditempuh menggunakan LRT, sekaligus memberikan pengalaman menikmati transportasi publik yang terhubung dengan kawasan perkotaan Jakarta.
Setibanya di Stasiun Halim, penumpang juga dapat melihat sejumlah koleksi miniatur kereta cepat dari berbagai negara melalui fasilitas yang tersedia di stasiun tersebut.
Pukul 10.00 WIB, perjalanan berlanjut menggunakan Kereta Cepat Whoosh menuju Bandung. Dengan kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam, perjalanan dari Halim menuju Padalarang hanya membutuhkan waktu sekitar 29 menit.
Whoosh tiba di Stasiun Padalarang pukul 10.29 WIB. Perjalanan kemudian disambung menggunakan KA Feeder menuju pusat Kota Bandung.
Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, mengatakan integrasi antarmoda kereta api memberikan pengalaman perjalanan yang lebih mudah bagi masyarakat.
"Selain memberikan experience, teman-teman juga bisa tahu. Oh, ternyata memang sekarang moda transportasi kereta api itu ekosistemnya sudah seamless, sudah mudah," ujar Feni saat ditemui di Bandung, Kamis (5/11/2026).
Manager Corporate Communication KCIC, Emir Monti, menyampaikan Whoosh juga menunjukkan tren peningkatan jumlah penumpang.
Pada hari kerja, rata-rata penumpang Whoosh mencapai 16.000 hingga 18.000 orang per hari. Mayoritas di antaranya merupakan pekerja. Sementara pada akhir pekan, jumlah penumpang meningkat menjadi sekitar 18.000 hingga 21.000 orang per hari.
Menghadapi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), KCIC berharap jumlah penumpang dapat mencapai 23.000 hingga 24.000 orang per hari. Adapun rekor sebelumnya tercatat sekitar 26.000 penumpang dalam sehari saat libur sekolah tahun lalu.
Whoosh saat ini melayani 62 perjalanan setiap hari, terdiri atas 31 perjalanan dari Jakarta dan 31 perjalanan dari Bandung. Satu rangkaian kereta memiliki kapasitas hingga 601 tempat duduk.
Selain menawarkan kecepatan perjalanan, tiket Whoosh juga memberikan akses terhadap sejumlah program promosi wisata.
Emir menjelaskan, KCIC menjalin kerja sama dengan lebih dari 40 destinasi wisata di Jakarta dan Bandung. Penumpang berkesempatan memperoleh berbagai keuntungan, mulai dari diskon tiket masuk, layanan shuttle gratis, hingga potongan harga di restoran dan hotel sesuai ketentuan mitra.
"Penumpang bisa mendapatkan diskon khusus, gratis masuk, free shuttle, hingga potongan harga di restoran dan hotel," jelasnya.
Menelusuri Sejarah Kereta Api di Bandung
Perjalanan di Kota Bandung juga dimanfaatkan untuk mengenal sejarah perkeretaapian Indonesia. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Kantor Pusat PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Jalan Perintis Kemerdekaan Nomor 1, Bandung.
Bangunan berarsitektur kolonial tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan panjang perkeretaapian di Indonesia. Di kompleks kantor pusat itu juga terdapat dua bunker tua yang kini dimanfaatkan sebagai ruang perawatan arsip foto dan dokumen sejarah kereta api.
Menjelang sore, perjalanan kembali ke Yogyakarta dimulai menggunakan KA Turangga dari Stasiun Bandung pukul 17.40 WIB.
Kereta tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 23.42 WIB. Dengan demikian, perjalanan lintas tiga kota yang dimulai pada malam sebelumnya dapat diselesaikan dalam satu rangkaian perjalanan sekitar 24 jam.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana konektivitas antarmoda transportasi berbasis rel dapat membuka pilihan perjalanan yang lebih fleksibel. Integrasi KA jarak jauh, LRT, kereta cepat, dan KA Feeder menjadi bagian penting dalam mendukung mobilitas masyarakat antarkota.
Editor: Joko Piroso